Sebagian orang bilang bahwa hidup itu pilihan. Ya, saya setuju karena memang dalam hidup kita selalu ada perkara memilih. Hidup dan Mati juga perkara memilih bukan? Kita memilih untuk terus tetap hidup atau memilih untuk mati. Bahkan saat bangun ketiga pagi hari, untuk bangun dan beraktifitas atau melanjutkan tidur lagi juga perkara pilihan bukan?

Terkadang saya merasa konyol sekali saat dalam hidup saya begitu banyak pilihan. Konyol bukan berarti itu buruk, bukaaan. Cuman jatohnya jadi negative soalnya kalau dihadapkan dengan banyak pilihan malah berakhir dengan ngeluh dan gaj bersyukur. *sumpah ini fase yang membuat saya sebel dengan diri sendiri kalo lagi banyak pilihan gak bersyukur tapi malah ngeluh

Konyol yang saya maksud adalah sesuatu hal yang unik dan gak saya sangka yang terjadi dalam hidup saya. Konyol karena memang tak pernah saya sangka bisa terjadi. Tentu lagi-lagi saya mengingatkan diri sendiri, harus didasari rasa syukur.
Setiap orang memiliki kebiasaan masing-masing sebelum tidur. Ada yang sikat gigi, cuci kaki, cuci muka, sholat witir, baca Al Mulk, ada juga yang gak bisa tidur kalau belum nonton Film, dan banyak hal lainnya yang setiap orang punya kebiasaannya masing-masing. Mungkin kalau anak muda jaman sekarang bakalan check timeline BBM, ganti status, ganti depe baru bisa tidur. Ada juga yang merasa tidak punya kebiasaan sebelum tidur, padahal saya yakin pasti ada, walau hanya set-alarm.

Saya teringat syair Madura, yang semua anak bapak saya  pasti hafal. Semenjak saya kecil, bapak selalu mengingatkan untuk berdoa sebelum tidur dan mengucapkan kalimat ini. Kalimat-kalimat dengan bahasa Madura yang tak saya mengerti. Tapi kalimat-kalimat ini sudah seperti doa juga sebelum tidur. Selalu dilafalkan. Namun semenjak berada jauh dari rumah, saya sering melupakannya. *saya sedih kebiasaan baik kenapa saya tinggalkan, sesekali saya ingat sesekali lupa.

Seperti apa syairnya? Dan apa artinya? Saya juga penasaran!

Semenjak kuliah di Madura, saya bertanya ke beberapa teman apa arti syair ini. Tapi tak ada yang mengerti. Ah, sepertinya saat itu pelafalan saya yang kurang benar. Nah, saat Ramadhan kemarin, biasanya setelah berbuka puasa kami satu keluarga berbincang-bincang sembil menunggu waktu Tarawih. Dan perbincangan saat itu adalah syair sebelum tidur! Ibu menjelaskan arti dari syair itu. *Sepertinya setiap kami bertanya, ibu selalu menjelaskan artinya, mungkin saya saja yang lupa atau mungkin hanya obrolan lewat bagi saya #ah saya menyesali hal itu saat tau artinya

Berikut adalah syair beserta artinya :
Illallah (LailahaillaAllah), banthal syahadat, sapo’iman, pajung Allah

Tiada Tuhan Selain Allah. Berbantalkan syahadat, berselimutkan iman dan berpayungkan Allah

Taretan Pa’empa’ ke lema’ bedhen

Saudaraku berempat, berlima denganku *kata ibuk, saudara berempat itu para malaikat, mulai dari yang mencatat amal baik dan buruk serta malaikat pencabut nyawa

Sengko’ tedhung ayo sandhingin

Aku mau tidur ayo temani aku

Malam ini saya jadi larut dalam kenangan menjelang tidur bersama Bapak dengan membaca syair ini keras-keras, ya itu dulu, saat saya kecil. Ah iya, saya ditinggal Bapak memang masih sangat kecil, baru lulus TK. Baru masuk SD tepatnya. *Semoga Allah menempatkan Bapak di Surga Nya :))

Saya beruntung ingatan itu kembali, karena banyak moment yang saya tak ingat. *tapi saya masih merasa syair itu kurang satu kalimat :(

Tiada Tuhan Selain Allah. Berbantalkan syahadat, berselimutkan iman dan berpayungkan Allah. Bapak mengajarkan bentuk kepasrahan paling tinggi dalam syair itu, Allah. Selain itu saya yakin Bapak menaruh harapan dan doa dalam syair tersebut, agar dalam setiap hari esok, dalam setiap langkah yang ditempuh sepanjang hidup anaknya, Allah selalu senantiasa melindungi anak-anaknya (kami),  bahkan juga saat kami terlelap tidur.

Saya tak tahu menahu apakah syair itu mahsyur di Madura atau tidak. Toh beberapa teman saya tak mengerti artinya, ya sekali lagi mungkin karena pelafalan saya saat itu kurang tepat. Saya berharap jika ada yang tahu syair ini, mungkin bisa sharing dengan saya. Apakah penulisan saya sudah benar, apakah artinya sudah tepat. Saya sangat ingin mengetahuinya. Apalagi jika ternyata syair ini adalah penggalan syair lain yang lebih lengkap? Who’s know? :))
Semua terjadi karena ada sebabnya. I believe in it. And that’s why I know that some “meeting” (for last and will be happen) is more than just coindence. - kesepuluh

Kali ini saya akan berfokus pada yang namanya pertemuan. Hampir setiap orang selalu bilang bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Yes! Dan memang itu hidup bukan? Ada Kehidupan dan ada kematian. Semua yang hidup nanti juga bakalan mati, dan semua yang bertemu nanti akan berpisah. Oke, bukan berfokus pada perpisahan, bukaaan. Ini berfokus pada yang namanya pertemuan.

Pernah nggak si dalam hidup kamu, tiba-tiba orang yang nggak kamu sangka kenal di kereta misalnya, atau di sebuah acara kopdar, eh tiba-tiba jadi deket sama kamu? Pernah merasa? :D

Setelah saya berfikir berulang-ulang, kesannya kok jadi lucu yak, kadang pengen senyum-senyum sendiri kalau mengingat-ingat gimana caranya bertemu di awal dan gimana kondisi pertemanan sekarang. Teman saya yang ini dulu ketemunya disini, teman yang itu ketemunya disitu, teman yang sana ketemunya disana. Dan Allah pasti has a Great Planning tentang pertemuan-pertemuan itu.

Saya misalnya. Pernah bertemu dengan seorang pembicara di sebuah acara kopdar blogger se-nusantara. Petemuan itu tentu tak berarti apa-apa, lha wong saya jadi peserta diantara 1300-an peserta dan dia jadi pembicara. Pertemuan kedua tanpa disangka-sangka ketemu di acara workshop coding khusus cewek. Nah lho, pertemuan ketiga ketemu pas saya ada di Google Student Ambassador. Lha dalah, sekarang orang tersebut jadi bos saya. Nah lho!haha

Adalagi, saya pernah bertemu seseorang di sebuah acara, dipikiran saya orang itu tak se-iman dengan saya. Eh, lha dalah, ambil air wudhu-nya bareng saya. Astaghfirullah, malu banget sama Allah udah liat dia dari fisiknya yang berkulit putih dan bermata sipit, kirain non muslim, udah su’udzon kemane-mane, eh ternyata muslim. Dan malah sekarang jadi teman baik. Sering jadi recycle dan benerin laptop dan hape saya kalo lagi ngambek.haha

Banyak lho cerita saya tentang yang namanya pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tak terduga. Yang unik juga ni, kenal dan bertemu seorang blogger baik hati. Ketemu cuman mungkin 1-2 kali. Lalu dia sudah saya repotkan numpang kos untung adek saya yang tes snmptn. Nah lho! :D

Adalagi, lucu juga, senior saya pernah tuh pas saya semester satu, ngajak pacarnya yang anak universitas negeri di Surabaya, cewek, dan mereka sudah putus, mbak ini udah nikah sekarang. Ni mbak-mbak mantan pacarnya senior saya baik banget sama saya. Bahkan sekarang masih sering komunikasi dan akrab. Nah lho! :D

Allah itu ngasih pertemuan-pertemuan itu karena Allah punya rencana dan sebab kenapa kita dipertemukan.

Yang paling terbaru adalah saat teman-teman di dunia perbloggeran pada ketemu jodohnya pas kopdar blogger, atau teman-teman komunitas yang ternyata jodohnya di komunitas itu jugak. Sungguh menyenangkan bukan? Saya sering senyum-senyum dan seneng sendiri kalo denger kabar ada teman blogger yang nikah sesame blogger, atau temen komunitas ini yang ternyata nikah dengan anak komunitas itu. Berasa Allah Baik banget ngasih kejutannya, lucu, menyenangkan :))

Nah kalo jodohku? Bakalan ketemu dimana yak? Liat saja nanti yaa :D
Seorang wanita memang identik dengan dunia fashion. Fashion dalam kamus bahasa inggris adalah sebuah noun yang berarti “cara atau kebiasaan”, kalau dibaca sebagai kata sifat artinya jadi “memperhatikan mode”. Wanita akan disebut sebagai benar-benar wanita jika dia memiliki memperhatikan mode dengan baik.
Baik. Sejujurnya saya sering sekali di kritik oleh saudara ataupun teman. Mereka tentu mengkritik positif sisi cara berpenampilan saya. Mulai dari disuruh belajar dandan-lah, gak boleh pelit beli baju-lah, nyoba style hijab dengan tutorial ini dan itu. *Arrg, emang fashion saya kenapa? Seburuk itu kaah??

Oke baiklah. *Let me take a deep breath ya

Menurut saya, cara berdandan dan berpakaian seseorang itu ya suka-suka. Hari ini nyaman begini, hari itu nyaman begitu. Kalo di rumah begini kalo d kos begitu. Kalo di kantor begini kalo ke kampus begitu. Yaelah, capek bener jadi wanita. Saya bukan pemerhati fashion memang. Dan memang tidak suka berdandan aneh-aneh. Keluarga dan teman yang mengkritik saya tentu karena mereka perhatian dengan saya. Cuman saya jadi bingung loh. Sebetulnya cara berpenampilan yang bagaimana si yang cocok dengan saya? I have got to be serious about it. Mereka merasa saya belum punya style yang pas untuk saya. *entah mengapa saya mah nyaman2 aja yak :D

Mulai dari muka, ujung rambut sampek kaki semuanya di komentarin. Saya tau si saya memang ta begitu cantik. Tapi please deh masak iya yang bedaknya kurang tebel-lah, gak pakek lipstick jadi keliatan pucet-lah, makek baju ini kurang bagus lah, kalo makek jilbab kudu begini-lah, kudu mulai belajar makek pensil alis-lah, dan banyak lah-lah-lah lainnya selalu terlontar saat liat saya?

Okey, bukan berarti selama ini saya gak perhatian dengan diri saya yaaaa. Saya juga berusaha ilangin jerawat dengan mulai belajar rutin makek produknya Larisa. Kalo untuk belajar makek lipstick dan pensil alis, mascara, eye liner dan lainnya mungkin tidak, karena emang kayaknya bukan saya banget deh. Mungkin nanti, entah kapan, saya akan belajar.hehe

Nah, kalo cara atau mode berpakaian, saya mah juga bingung yang pantes yang kayak gimana. Baju saya yang jelas ya itu2 aja.hehe, Maksud saya, emm, saya memang belum punya style yang pas untuk berpenampilan. Mungkin itu jawaban yang me-lega-kan bagi mereka yang sering mengkritik saya.heehee
Honestly, saya hanya ingin menjadi saya seutuhnya. Kalau-pun memang menurut orang saya belum menemukan style fashion yang pas, ya sudahlah, nanti juga bakalan ketemu :D

Lagipula Allah sudah mengatur semuanya di Manual Book kita sebagai seorang hambanya yang harus menutup aurat. Tentu aurat Pria dan Wanita berbeda. Kalau wanita ya seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Tentu untuk menjaga aurat ini terkadang terasa benar2 berat, karena memang benar2 Islam menjadi sosok wanita dengan sempurna. Tak boleh ketat, nerawang, jilbab harus terjulur sampai dada, dan lain sebagainya. Bukan kapasitas saya membahas tentang ini. No Excuse, tapi memang ilmu agama saya masih kurang untuk membahasnya, apalagi cara berpakaian saya juga masih kurang bener.

Kalau menurut kamu gimana cara berpakaian seseorang itu penting sekali? Atau memang kudu dijaga? Atau kamu bisa baca orang dari penampilannya? kalau penampilan yang sering berubah2 kayak saya susah ditebak donk? Haha *saya jadi penasaran :D
“Kamu beruntung ya”. Hanya tiga kata namun efeknya luar biasa bagi saya. Saat itu, saya masih belum paham apa itu kata “beruntung”. Yang saya paham dan asumsikan dari cara mereka berucap adalah makna yang sangat tidak enak di dengar, terkesan meremehkan. Saya merasa justru kalimat yang terlontar dari teman saya atau orang lain saat mengucapkan kalimat tersebut untuk saya itu berarti seperti ini: “Kamu beruntung. Padahal kamu kayak gini gitu gini gitu…”. Seakan-akan apa yang saya dapat semuanya tanpa usaha. That’s why saya merasa mereka seakan meremehkan saya. *ini apa saya yang stupid yak? Nggak bias bedain nada bicara mereka

Kalimat tersebut sering kali terdengar. Dengan pencapaian-pencapaian saya saat ini yang mungkin mereka merasa begitu dengan mudahnya saya mendapatkannya. Padahal TIDAK. Sama sekali tidak mudah. Saya lulus 3,5 tahun tanpa mengeluarkan biaya SPP bahkan mendapatkan living cost setiap bulannya, lulus dengan mudah dengan prestasi yang baik, pernah ke berbagai tempat di Indonesia dengan gratis dan langsung bekerja di perusahaan yang hampir setiap anak muda ingin sekali bekerja disini.  Banyak orang yang berfikir bahwa saya beruntung. Sekali lagi, kata itu seakan-akan meremehkan dan kurang tepat didengar. Seakan-akan itu semacam Hal Instan yang begitu mudah saya dapatkan. Why Stupid?

Saya yang salah berasumsi atau mereka yang menggunakan “nada” bicara kurang baik? *atau mungkin saya yang sensitif

Keberuntungan bagi saya adalah pencapaian dari usaha dan doa. Dan usaha untuk mencapai keberuntungan itu bukanlah suatu hal yang mudah. Setiap mereka bilang, “kamu beruntung ya..” saya dalam hati hanya meng-amin-kan. Meskipun nada mereka yang mengucapkan memang sedikit terkesan emm, meremehkan, tapi saya justru bahagia dan meng-amin-kannya. Kenapa? Karena Keberuntungan tak bisa diperoleh dengan usaha sendiri, doa sendiri, tapi juga doa orang lain :)) *berusaha positif

Terkadang kalimat “Kamu Beruntung ya..” juga berbahaya saat saya memaknainya bahwa usaha yang telah saya capai tidak sia-sia, saya telah beruntung mendapatkannya. Ini juga bisa jadi riya’ dan mungkin saya akan berhenti dan merasa puas. Ah, saat merasa hal ini terjadi, ini saya yang stupid.

Untuk menghindari semua hal itu. Sebagai seorang yang beragama ISLAM, saya tentu berusaha belajar mengaitkan semua yang saya alami dan akan saya alami dengan Yang Menciptakan saya. Dan dengan Manual Book yang diberikan Allah melalui Nabi Muhammad. Dan Yang namanya Orang Beruntung di dalam Al Qur’an itu ada banyak dan dengan sifat-sifat yang MasyaAllah sangat mulia. Saya belum mencapai ituuuu. *ah pengen teriak, malu banget sama Allah

Sifat apa saja coba yang menurut Allah orang itu beruntung? *ini hasil browsing di mbah Google

  1. Orang yang Selalu beramal ma’ruf dan nahi munkar [Q.S Ali Imron : 104]

  2. Orang mu’min yang selalu beramal saleh [Q.S Al Mukminun : 102-103 dan Q. S Al A’raf : 8]

  3. Orang yang mau berjihad dengan Jiwa dan Harta [Q.S At Taubah : 88]

  4. Orang yang mengikuti cahaya Al Qur’an [Q.S Al A’raf : 156-157]

  5. Orang yang mengikuti keputusan Rasulullah SAW *Allahumma shali alaih [Q.S An-Nur : 51]

  6. Orang yang berinfak [Q.S Ar Rum 38]

  7. Orang yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup [Q.S Luqman : 1-5]

  8. Tentara Allah [Q.S Al Mujadilah : 22]

  9. Orang yang terlindung dari Sifat Kikir [Q.S Al Hasyr : 9]

  10. Orang yang bertaubat [Q.S Al Qashash: 67]

  11. Orang yang bertaqwa [Q.S Al Baqarah : 1-5]

Nah, Orang yang beruntung menurut Allah adalah orang-orang yang seperti  11 point diatas. Bayangkan selama ini orang-orang mengatakan atau berpendapat saya beruntung, dan ternyata menurut Allah saya tidak beruntung? *Naudzubillah, Semoga saya menjadi hamba Allah yang benar-benar beruntung mendapatkan Surga Indah Nya kelak

­Ngeri kan? Keberuntungan itu saya anggap sebagai hasil dari USAHA dan DOA. Dimana kita kudu selalu melakukan keduanya yang saya sebut dengan Preparation dan mulai mencari  Opportunity untuk itu. Nah, berarti yang kudu saya lakukan sekarang ada preparation untuk jadi Hamba Allah yang Beruntung, yang masuk Surga kelak dengan mudah. Semua pasti berharap begitu kan? :)
Bismillah..

Hai! Saya Ria, anak ke-sepuluh dari seorang lelaki tampan berdarah Madura dan perempuan cantik asli Pare yang juga masih dari keturunan Madura. Saya senang sekali bisa kembali ke dunia blog yang saya cintai semenjak SMA :)

Mungkin blog ini juga adalah blog yang ke-sepuluh yang saya buat. Dan saya memutuskan untuk memberi nama blog ini "KESEPULUH". Genap. Dari dua angka dengan bentuk yang sangat berbeda namun berdampingan dan menjadi genap. Dari dua angka yang sangat berlawanan SATU dan NOL yang terkadang berarti kosong, namun cukup cantik jika dijejer berdampingan.

Saya sedikit grogi untuk memulai menulis kembali setelah dua blog saya(casthazahra dan lyzara) sering mati suri. Belum lagi blog-blog saya lain yang mungkin hanya berisi dua sampai empat post saja, lalu berhenti dan hilang bagai debu bertaburan.

Trus kenapa buat blog "kesepuluh" ini? Simple si. Saya ingin sesuatu yang baru. Saya ingin bercerita berbagai pengalaman saya dengan konteks yang lebih positif dan baru. Se-simple itu. Dan tentu dengan niat baru untuk bener-bener aktif nulis dan share segala hal yang positif. :)

So, Welcome to K E S E P U L U H !! :))