Benarkah Kita Cinta Rasulullah saw.?

By Ria Lyzara - Maret 14, 2009

Benarkah Kita Cinta Rasulullah saw.?




Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Bener juga sih kalo mau dipikir-pikir. Gimana nggak, wong kalo gue lagi di kendaraan umum kayak di bis or lagi di kereta api, gue cengok aja sendirian kalo pas nggak ngajak teman jalan bareng. Banyak orang sih di sekitar gue. Tapi yang terjadi kan masing-masing sibuk dengan urusannya. Boro-boro sayang ama gue (gue aja nggak sayang ama mereka), wong kenal aja nggak. Kadang sekedar nyapa pun nggak gue lakuin, kecuali kalo ada yang duluan nyapa gue sekadar basa-basi. Kadang, gue juga nyoba basa-basi nanya ini dan itu. Tapi ya namanya juga belum kenal banget, rada kaku gitu deh.


Bro, ngomong-ngomong soal terkenal atau kenalan supaya sayang, kalo elo ngeh dan tahu, Rasulullah saw. tentu lebih terkenal dari pada selebritis mana pun di dunia ini. Emang sih, gue dan elo tahu juga soal Muhammad saw. Setiap Muslim insya Allah tahu betul kalo Nabi Muhammad saw. adalah Rasulullah. Maklumlah, setiap bulan Rabiul Awwal di masyarakat kita suka diadain peringatan Maulid Nabi. Yup, bulan Rabiul Awwal adalah satu dari 12 bulan dalam kalender Qomariah yang kayaknya kita apal banget. Jujur, gue apal banget.


Bro en Sis, penulis buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Michael Hart, menyebutkan, Dia (Muhammad saw.) adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus (Nabi Isa) atau siapapun di dunia ini. Keren banget kan?


Karena itu pula, yang gue tahu dan pernah baca keterangannya, Dr. Ahmad Muhammad al-Hufy sebelum menulis Min akhlak an-Nabiy beliau bertutur penuh kerendahan hati, Ya, Rasulullah, junjunganku! Apakah kata-kata yang tak berdaya ini mampu mengungkapkan ketinggian dan keluhuranmu? Apakah penaku yang tumpul ini dapat menggambarkan budi pekertimu yang mulia? Bagaimana mungkin setetes air akan sanggup melukiskan samudera yang luas? Bagaimana mungkin sebutir pasir akan mampu menggambarkan gunung yang tinggi? Bagaimana mungkin sepercik cahaya akan dapat bercerita tentang matahari? Sejauh yang dapat dicapai oleh sebuah pena, hanyalah isyarat tentang keluhuran martabatmu, kedudukanmu yang tinggi, dan singgasanamu yang agung.


Itulah alasannya. Rasulullah memang sosok yang agung, mulia dan bermartabat tinggi. Agak sukar bagi gue untuk menjelaskannya dengan amat detil. Guru ngaji gue pernah ngasih tahu bahwa, Ali bin Abi Thalib ra pernah ditanya sama seseorang dari kalangan Yahudi tentang akhlak Nabi. Apa reaksi Ali? Beliau malah balik bertanya, Lukiskan keindahan dunia ini, dan aku akan gambarkan kepada Anda tentang akhlak Nabi Muhammad saw. Lelaki Yahudi itu berkata, Tidak mudah bagiku. Ali menukas, Engkau tidak mampu melukiskan keindahan dunia, padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ketika berfirman, Katakan, keindahan dunia itu kecil (QS an-Nis? [4]: 77)


Bro, Nabi kita, Muhammad saw., adalah sosok pribadi yang hebat dan keren banget. Maka, sekarang adalah saatnya untuk mulai mengenal pribadi Rasulullah saw. Belum terlambat banget kok. Kita kenal pribadinya, biar gue dan elo tahu dan tentu mencintai dan menyayangi beliau juga. Jujur, gue nggak bakalan kenal Islam, kalo beliau nggak membawa pertama kali risalah Islam dari Allah Swt. untuk umat manusia ini. Gue yang hidup di jaman sekarang, tentu nggak ketemu Rasulullah saw., tapi gue bisa kenal Islam yang diajarkan oleh beliau melalui para pewaris kenabiannya, yakni para ulama. Alhamdulillah, gue (dan juga elo) pantas berbahagia dan bersyukur karena kita bisa menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.


Cuma masalahnya nih, meski demikian ternyata banyak kaum muslimin yang nggak kenal lebih jauh dan dalam tentang Rasulullah saw. Kecuali beberapa informasi yang umum aja seperti nama orangtua beliau, tahun kelahirannya, sedikit tentang akhlaknya, dan perjuangan dakwahnya di Mekkah dan Madinah. Tapi, kepribadian dan kehidupan beliau lebih detil, jarang ada kaum muslimin yang tahu: berapa istrinya; namanya siapa aja; nama anak-anak beliau siapa aja; bagaimana perjuangan menegakkan Islam yang beliau lakukan; tugasnya sebagai kepala negara Islam; bagaimana cara beliau memimpinnya; dsb. Sangat boleh jadi, malah ada yang nggak mau tahu. Wah, kalo yang nggak mau tahu itu lebih parah dari mereka yang sekadar belum tahu. Sebab, kalo belum tahu bisa belajar untuk tahu. Tapi kalo mereka yang nggak mau tahu, dikasih info dan diajarin juga nggak bakalan mempan.


Nah, satu-satunya cara untuk mengenal pribadi Nabi Muhammad saw., adalah dengan mempelajari dan memahami kehidupan beliau. Insya Allah udah banyak buku yang mengupas keagungan pribadi Rasulullah saw. Elo bisa belajar dari situ.


Cinta dan taat kepada Rasulullah


Rasulullah saw. telah membawa risalah Allah Swt. ini untuk umat manusia. Penuh cinta beliau sampaikan untuk umat manusia di seluruh dunia ini. Seperangkat aturan dari Allah Swt. beliau sampaikan, baik melalui al-Quran maupun hadis. Harapannya, agar seluruh umat manusia sadar dengan status dirinya sebagai hamba Allah Swt.


Keberadaan Rasulullah saw. harus gue akui sebagai manusia pilihan Allah untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini. Itu artinya, kalo gue menolak keberadaan beliau, berarti secara nggak langsung udah menolak juga keberadaan Allah Swt. Ih, jangan sampe deh gue punya pikiran kayak gitu.


Gue dan elo percaya kepada Allah Swt. tentu udah satu paket bahwa bukan cuma percaya kepada keberadaan Allah Swt. saja, tapi juga wajib percaya kepada aturanNya, dan juga orang-orang pilihanNya, yakni para Nabi dan Rasul. Jadi, kalo untuk kita nih, kaum Muslimin, berarti kita wajib percaya dengan Muhammad saw. karena beliau adalah utusan Allah Swt. yang terakhir untuk umat manusia.


Itu artinya, kalo gue dan elo ngakui sepenuh hati bahwa Muhammad saw. adalah utusan Allah Swt., maka semua aturannya, baik yang bersifat perintah maupaun larangan harus kita perhatiin. Kalo perintah (bisa wajib dan bisa sunnah), kita harus berusaha untuk melaksanakannya. Terutama yang wajib. Begitu pun dengan larangan dari beliau (baik yang haram ataupun makruh), kita harus berusaha untuk menghindarinya.


Lagian kita juga kudu nyadar bahwa apa yang dibawa Rasulullah saw. tuh hakikatnya berasal dari Allah Swt. Gue pernah dikasih tentang firman Allah Swt.: kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS an-Najm [53]: 2-4)


Bro and Sis, dengan ayat ini rasa-rasanya gue pantas takut kalo sampe ngelanggar perintah dari Rasulullah saw. Sebab, hakikatnya adalah perintah dari Allah Swt. Maka, biar gue nggak salah jalan dalam hidup ini, selain mempelajari al-Quran, juga kudu gaul ama hadis-hadis Rasulullah saw. Bukan apa-apa, karena adakalanya penjelasan Allah Swt. nggak kita temukan dengan mudah di al-Quran, tapi bisa kita dapatkan di hadis Rasulullah saw. Contohnya adalah perintah shalat, di al-Quran emang ada perintah shalat (baik yang wajib lima waktu maupun shalat sunnah seperti tahajjud), tapi perintah itu nggak dijelaskan dengan detil tatacaranya. Tapi dalam hadis, Rasulullah saw. menjelaskan sabdanya: Shalatlah kalian sebagaimana kalian menyaksikan (cara) aku shalat.


Nah, kalo pengen lebih detil lagi tentang bagaimana cara takbir, cara rukuk, cara sujud, bacaannya, waktunya, dan sejenisnya kita bisa cari di buku-buku fikih. Para ulama udah ngasih kemudahan kita lewat ijtihad yang dilakukannya ketika memahami dalil syara dari al-Quran dan as-Sunnah ini. Ini baru perintah shalat lho. Masih banyak perintah Rasululullah saw. lainnya. So, kalo sampe kita nggak ngeh atau malah dengan terang-terangan menolak berarti kita melawannya. Ih, naudzubillahi min dzalik.


Mencintai dan meneladani Rasulullah


Bro, ngomong-ngomong soal idola, gue jadi kepikiran nih sama idola sepanjang masa, dan kaum muslimin pastinya harus menjadikan beliau sebagai teladan. Meski udah wafat, tapi kharismanya masih bersinar. Tak pupus oleh waktu. Siapakah dia?


Ya, betul! Dia adalah Muhammad Rasulullah saw. Elo pinter deh. Bener. Rasulullah saw. udah diset oleh Allah Swt. agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Beda banget dengan idola-idola yang selama ini ada dan diidolakan kebanyakan manusia. Lagian, nggak ada jaminan dari Allah Swt. kalo mereka harus diidolakan. Tapi khusus untuk Rasulullah saw., Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21)


Tuh, jaminan langsung dari Allah Swt. Gimana nggak oke, Bro. Itu artinya, kebenaran dan kebaikannya emang jaminan mutu. Bukan katanya. Tapi udah jelas faktanya. So, nggak meragukan lagi sebagai tokoh yang pantas kita jadikan teladan. Setuju kan?


Gimana tuh biar gue dan elo semua bisa meneladani Rasulullah? Pertama nih, yang gue tahu dari pak ustad gue, makna ittiba adalah mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Firman Allah Swt.:Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (QS al-Hasyr [59]: 7)


So, kalo emang elo cinta, kagum, dan pengen menjadikan beliau teladan dalam hidup elo, maka elo (termasuk gue) kudu ngikutin semua yang dibawa oleh Rasulullah saw. buat kita semua.


Kedua, syariat Islam diturunkan oleh Allah kepada seluruh manusia dengan melihat bagi kemanusiaannya. Dalam hal ini, syariat tidak mengenal perbedaan suku, bangsa, bahasa, waktu, dan tempat. Artinya, hukum Islam berlaku bagi seluruh manusia kapan pun dan di mana pun. Dan tentu aja bakal cocok untuk semuanya.


Jadi nih, kalo emang mencintai Rasulullah dan meneladaninya, sebenarnya bukan cuma kita doang. Umat lain juga selain harus ngakuin Muhammad saw. sebagai Rasulullah, juga kudu meneladani beliau dalam syariatnya. Dari keterangan yang pernah gue baca, Beliau saw. bersabda: Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, seandainya Musa as. masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku sunguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus, seandainya ia (Musa) masih hidup dan mengetahui kenabianku sungguh ia akan mengikuti aku. (HR ad-Darimiy dalam as sunan no. 436)


Itu sebabnya, menurut ustad gue, ada kaidah ushul (fikih), syaru man qablana laisa syaran lana (syariat orang-orang sebelum kita bukanlah syariat bagi kita). Nah, kaidah ini tentu nggak asal dibuat, karena tentunya berdasarkan ijma para shahabat bahwa syariat Muhammad saw. merupakan penghapus seluruh syariat terdahulu. Dengan demikian maka Nasrani dan Yahudi, mereka diseru dengan syariat Islam dan diperintahkan untuk meninggalkan syariat mereka. Karena Islam telah menghapus (menasakh) syariat mereka.


Terus yang ketiga neh, bahwa ittiba alias mengikuti en meneladani Rasulullah saw. emang sesuai fitrah manusia. Kita perlu memahami bagaimana mengikuti Rasul dalam melakukan aktivitas kesehariannya; seperti memperlakukan pekerjanya, istri-istrinya, para sahabatnya, termasuk memimpin negara dalam berbagai urusan; politik, ekonomi, sosial, budaya, pengadilan, hukum, dan pemerintahan. Dan, kita pun insya Allah bisa menjadikan beliau sebagai teladan dalam aktivitas keseharian kita. Siap kan? Insya Allah bisa deh. Oke?


Allah Swt. berfirman:Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran [3]: 31)


Tuh, jika kita benar-benar mencintai Allah, berarti gue dan elo kudu mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Artinya juga, kalo gue dan elo emang mencintai Rasulullah saw. seharusnya udah pasti juga kudu menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan kita. So, udah bener belum ya gue dan elo semua mencintai Rasulullah saw.? Tanya kenapa? [solihin: osolihin@gaulislam.com]



sumber : www.gaulislam.com

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments