Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kembali memiliki 3 makna yang semuanya merupakan kata kerja. (1) Balik ke tempat atau keadaan semula, (2) lagi, dan (3) sekali lagi, berulang lagi.

Saya kembali. Yes I am here guys! Setelah sekian lama selalu menutupi rasa malas dengan berbagai alasan untuk tidak kembali menulis disini. 

Barangkali ini hal yang klise. But honestly, sulit sekali memulai menulis kembali. 
Padahal, banyak sekali rasa yang ingin saya ungkap, cerita yang ingin saya tuangkan, kisah yang ingin saya tuliskan, makna dalam hidup yang ingin saya ukir disini sebagai tempat muhasabah diri. Dan barangkali bisa setidaknya sebagai bahan bacaan diwaktu senggang, atau pembelajaran, atau bahkan bisa menginspirasi kamu yang berada di depan monitor atau layar handphone saat ini.

It almost 1,5 years, i am inactive to post in instagram (sometimes I post instagram story, yaa, for keep my moment) dan ternyata hal tersebut memberikan efek gelembung ke sekitarnya. Saya jadi jarang sekali menulis terlebih-lebih menulis di blog, di facebook dan twitter yang singkat saja super jarang.

Jika ditanya tentang kenapa gak aktif di instagram, jawabannya bisa singkat, bisa juga panjang. Haha. Singkatnya, salah satu contohnya adalah like I lost myself. It’s good enough to post good news from us and share it. That the Social media works right? But ya, saat itu, saya hanya merasa too much and  I am tired. So I challenged my self untuk tidak post di feed instagram salama setahun dan ya I did it. Eh keterusan dan berefek juga di blog ini hehe.

I am back now! Bukan karena tantangan untuk tidak post di instagram sudah selesai, jadi ngefek juga ke blog. Bukan. Seperti yang saya tulis di paragraf ke dua,  saya ingin kembali melakukan refleksi diri dan berbagi kembali dengan menulis disini. Seperti misalnya menuliskan kisah dibalik saya melanjutkan kuliah lagi misalnya, atau sekarang saya sudah lulus S2 lalu kegalauan setelah lulus S2 seperti apa, menjadi jomblo di usia yang kata orang sudah waktunya nikah ini, kisah saya ke US lagi dan berpetualang ke LA, berbagi rasa bagaimana keponakan saya menikah duluan ketimbang tantenya haha, memutuskan untuk tinggal di  Jakarta (sementara ini) dengan pertimbangan apa, tiba-tiba harus handle tim dan langsung nyemplung gitu aja di kantor baru, banyak kisah lain yang ingin saya bagikan dan juga saya ingin mendapatkan masukan serta membaca kisahmu juga.

Seperti saat ini, saya sedikit berfikir apakah saya bisa (baik) kembali di sini? Apakah tulisan saya akan dibaca? Apakah terlalu formal jika saya menggunakan paragraf pertama saya dengan mengutip KBBI? Atau terkesan sok-sok an dan terlihat ilmiah? Atau melihat paragraf pertama saja sudah membuatmu tak tertarik membaca tulisan ini?

Kata orang bijak, apapun bisa dilakukan dengan tulisan. Words have the positive power. Looking forward for your words. :) 

*my blog is undermaintenance karena pindah hosting, jadi banyak foto yang hilang


“Semangat, Jangan Takut, Banyak orang bantu, Google akan membantu, Woman Will akan membantu. Pasti bisa, saya sangat yakin sekali wanita-wanita, perempuan Indonesia bisa tetap maju, bisa tetap hebat di IT Digital, Yuk kita maju rame-rame!”

Pesan dari Bapak Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia, yang langsung saya dapat untuk diabadikan dalam Vlog baru saya yang bertajuk Bincang Ria. Dalam perbincangan singkat tersebut saya baru ingat untuk mengabadikannya di moment terakhir, saat beliau memberikan pesan-pesan untuk saya, perempuan Indonesia yang bergerak di bidang IT.

Bagi saya perempuan yang ada di dunia IT itu selalu menarik, karena dalam beberapa hal, saya sendiri merasa terkadang bahwa, iya, hal ini sulit, di mana memang banyak pria yang lebih mendominasi di dunia IT. Namun banyak juga kok perempuan hebat di dunia IT, I want to show you guys di Vlog saya tersebut. Well, seperti tajuknya kali ini, Maju Rame-Rame, Google Indonesia memang sedang berkomitmen dengan memberikan berbagai produk dan kemitraan yang akan bantu warga Indonesia untuk maju rame-rame, khususnya dalam ekonomi digital yang sangat ini berkembang pesat.

Saya super bersyukur bisa untuk kedua kalinya datang di acara tahunan Google Indonesia ini. Tahun 2018 ini, untuk kali ketiga, Google Indonesia membuat acara ini dan setiap tahunnya memang ada aja tuh “Persembahan untuk Indonesia”. Nah, pada tulisan saya kali ini, bakalan kasih ringkasan singkat, apa saja sih persembahan dari Google untuk Indonesia biar kita bisa Maju Rame-Rame.



Komitmen untuk mengadakan pelatihan keterampilan digital bagi 1 juta UKM lagi!

Program ini sebetulnya sudah saya ketahui sedari lama, mengingat di Kibar, kantor pertama saya dulu, saya ikut mengerjakan program Google terkait hal ini, yaitu Gapura Digital di tahun 2015 silam. Namun kali ini berbeda, sejak 2015 Google telah melatih satu juta UKM Indonesia dan pada Google for Indonesia lalu, Google mengumumkan komitmen barunya untuk melatih satu juta lagi UKM sampai tahun 2020. Wow! Selain inisiatif literasi digital ini juga ada dana sebesar USD $875,000 dari organisasi filantropi Google yaitu Google.org, untuk Maarif Institute, Peace Generation, RuangGuru Foundation, Love Frankie, dan Cameo Project untuk membina 12.000 siswa untuk menjadi agen toleransi, multikulturalisme dan nilai-nilai positif. Awesome kan!

Meluncurkan Jobs on Google Search

Ini nih! Fitur agregator ini bakalan mempermudah masyarakat Indonesia untuk menyaring lowongan kerja yang memang sesuai dengan passion dan apa yang diinginkannya. Cara kerja Jobs on Google Search ini termasuk mudah, dimana saat kita melakukan pencarian dengan kata kunci “lowongan pekerjaan” maka tampilan yang muncul adalah lowongan pekerjaan dari seluruh web, dengan fitur untuk menggolongkannya ke dalam berbagai kriteria, termasuk jenis pekerjaan, industri, ataupun kota lowongan perkerjaan tersebut. Jadi gak perlu buka laman website pencarian pekerjaan satu-satu. Semuanya sudah ada di agregator ini dan tidak ada redudansi semisal lowongan tersebut di post di beberapa halaman website pencarian kerja.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) untuk menyediakan konten berbahasa Indonesia

Beberapa pekan lalu saya mencoba beberapa website Google yang menyediakan konten bahasa Indonesia, misalnya MLCC (Machine Learning Crash Course). Nah ternyata, Google memang sedang berkonsentrasi pada hal ini. Di Google for Indonesia kemarin, Ken Tokusei, Director International Search, menjelaskan beberapa fitur-fitur baru Search yang menawarkan akses informasi yang lebih mudah dengan bahasa Indonesia. Google berkolaborasi dengan Wikipedia, jadi sistem Google bakalan mengidentifikasi artikel Wikipedia yang relevan dan hanya tersedia dalam bahasa Inggris,lalu  menerjemahkannya ke bahasa Indonesia dengan menggunakan sistem neural machine translation yang diberdayakan AI, dan kemudian memunculkan artikel tersebut di Google Search. Keren kan. Saya selalu suka dengan hal-hal yang berbau AI seperti ini. Hal ini mengingatkan saya dengan skripi saya saat S1 dulu. Hehe

WizPhone, ponsel kelas menengah buatan Indonesia yang dilengkapi Asisten Google!


Nah ini nih! Pengumuman paling mencengangkan di mana WizPhone ini adalah ponsel buatan Indonesia pertama yang sudah dilengkapi dengan Asisten Google. WizPhone dibuat bersama Wizphone dan Alfamart. WizPhone menggunakan KaiOS atau sistem operasi ponsel ringan yang menghadirkan aplikasi dan layanan yang canggih di dalam ponsel kelas menengah. WizPhone ini bakalan diluncurkan melalui toko-toko Alfamart di seluruh Indonesia, dengan harga IDR 99.000. Gila gak tuh! Saya ikutan antri dah buat beli Wizphone!

Google Go, untuk semua orang!

Everything is go! Google Go ini bisa dibilang “aplikasi serba guna” untuk internet dengan teknologi AI. Google Go ini bisa dibilang seperti halnya Google Search biasanya tapi lebih ringan dan bakalan membantu menemukan berbagai situs dan aplikasi dengan mudah. Lebih keren lagi karena aplikasi ini bisa membacakan halaman yang kita buka. Google Go menggunakan AI untuk membantu mengidentifikasi bagian halaman yang harus dibaca dan menghasilkan pengalaman pengguna yang natural dan lancar, bahkan dengan koneksi 2G. Ya tapi tentu saja aksen mbak-mbak atau mas-mas yang bacain ini masih keliatan “robot” banget jika membaca halaman berbahasa Indonesia. Tapi secara menyeluruh ini bakalan bantu banget kalau misal sedang tidak bisa membaca langsung halaman web. Jadi suruh Google Go aja yang bacain hehe

Fitur-fitur baru di Google Maps!

Wohoohooo, ini fitur bakalan bantu banget bagi saya yang suka menggunakan Google Maps. Bahkan saya hadir di Google for Indonesia ini berkat kontribusi saya ke Google Maps sebagai Google local guides. Fitur yang diluncurkan pada saat Google for Indonesia kemarin diantaranya adalah kemampuan untuk mengikuti lokasi bus secara real-time (ini bakalan bantu banget untuk check busway udah sampai mana), membagikan progres perjalanan secara real-time kepada keluarga atau teman (Suka banget fitur ini, biasanya saya menggunakan fitur live location via whatsapp! Tapi sekarang bsia menggunakan Google Maps. Cihuy!), dan mendapatkan notifikasi saat harus turun dari kendaraan. Selain fitur baru di Google Maps, Krish Vitaldevara, Director Product Management Google Maps, kemarin juga mengumumkan peluncuran aplikasi Google Bisnisku yang baru di Indonesia. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pemilik usaha lebih terhubung dan mendapatkan lebih banyak pelanggan. Badan usaha bisa membuat posting yang akan muncul di profil bisnis mereka di Google Search dan Maps, membagikan update tentang produk, penawaran, bahkan event. Mereka juga bisa diikuti pelanggan dan berinteraksi dengan mereka melalui pesan, booking, penawaran spesial, juga ulasan! Mantab sekali karena sekarang kita bisa chat langsung pemilik Bisnis via Google Maps!


Selain mengumumkan produk dan program mereka, Google juga mengundang Bapak Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia dan juga Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Gojek sebagai keynote speakers. Pada sesi ini saya benar-benar terkagum-kagum dengan dua sosok ini. Pengalaman luar biasa bisa mendengarkan mereka langsung melalui bangku peserta. Persis di hari sebelumnya saya membaca buku “Purpose” nya mbak Alamanda, yang banyak bercerita tentang Nadiem Makarim (next insyaAllah bakalan review bukunya yak). Jadi, benar-benar penasaran ingin secara langsung mendengarkan pengalaman Nadiem sendiri. Dipandu oleh Vice President of Product Management sekaligus General Manager of Payments and Next Billion Users Initiative Google, Caesar Sengupta, topik yang dibahas seputar rahasia Go-Jek berkembang sehingga menjadi salah satu unicorn di Indonesia. Ada tiga hal yang penting menurut saya dalam sesi talkshow bersama Nadiem ini, diawali dengan ide sendiri, Go-Jek menjadi sukses karena Nadiem punya 3 karakter yang oke punya:
  • Dengarkan orang lain. Terkadang mungkin sebagian besar dari kita memang susah untuk mendengarkan orang lain karena merasa ide kita itu benar dan terbaik. Berbeda, Nadiem justru sering mendengarkan orang lain. Hal ini juga dibahas dalam bukunya mbak Ala.
  • Don’t be another person, just be yourself. Dalam hal apapun, tidak hanya tentang startup, terkadang lagi-lagi sebagian besar dari kita mungkin suka sekali membandingkan diri dengan orang lain, lalu ingin menjadi seperti orang tersebut. Nah, kata Nadiem, kita jangan mencoba menjadi orang lain. Mereka yang berhasil selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan hasrat dan ketekunan tinggi dan tidak menjadi orang lain. Jadi, mari menjadi diri sendiri dan mengerjakan apa yang menjadi hasrat kita dengan ketekunan yang tinggi.
  • Make questions for everything, bahkan ke mentor kita. Somehow kalau dari saya sendiri, kadang suka bingung mau bertanya apa, bagaimana, malu dan sebagainya. Padahal ini penting. Dengan bertanya kita jadi tau banyak hal yang mungkin belum kita ketahui atau sudah kita ketahui tapi jadi dapat insight karena prespektif yang berbeda.

Sesi Nadiem ini memang berupa talkshow jadi interaktif antara Pak Nadiem dan Caesar sebagai moderatornya. Namun, sesi keynote dari Pak Arief Yahya tak kalah interaktif. Bahkan tanpa menggunakan slide presentasi, Pak Arief Yahya memberikan pemaparan yang luar biasa. Beliau menjelaskan dengan apik hubungan antara regulasi dan teknologi, kerja sama antara Kemenpar dengan Google yang sudah terjalin 3 tahun ini dan Google yang ternyata mitra utama Kemenpar untuk mengimplementasikan digital marketing. Nah tahun depan, Kemenpar bakalan bikin Wonderful Indonesia Start-Up Academy (WSA), yaitu academy/ kompetisi untuk membuat start-up Pariwisata, sehingga akan makin banyak UKM Pariwisata yang ada di Indonesia.



Program dan produk yang diumukan mungkin memang tak sebanyak
tahun lalu, namun ternyata banyak sisi positif dari program dan produk baru Google untuk Indonesia ini. Tentu seperti tahun lalu, setelah mendatangi acara ini, saya selalu berharap semoga dengan adanya produk dan program baru dari Google, semakin membantu saya dan masyarakat Indonesia lainnya untuk lebih produktif dan menjadi manfaat bagi banyak orang ya. Maju Rame-Rame untuk Indonesia yang lebih baik! 😊



Millennials aren't as smart about money as they think. Many young adults are managing jobs, student loans and home ownership, yet they fall short on financial know-how. - Jessica Dickler, CNBC
Sebagai seorang yang lahir di tahun 1990an dan termasuk dalam generasi yang paham teknologi, maka saya termasuk dari Generasi Millenial yang menurut beberapa ahli, kami memikul a number of financial burdens (beban keuangan). Menurut Business Insider US, hal ini dikarenakan kenyataan bahwa kami, generasi millennial, tumbuh atau memasuki dunia kerja selama Great Recession sehingga menciptakan tantangan keuangan yang unik. Untuk menyikapi tantangan tersebut, saya mulai belajar mengenai keuangan agar menambah literasi finansial saya.


Tiga bulan lalu, saya mencoba melakukan "investasi" ke sebuah fintech, bentuknya peer to peer lending (P2P lending). Saya merasa sangat dipermudah dengan adanya teknologi, karena bisa melakukan investasi hanya melalui aplikasi dalam ponsel pintar saya. Namun, kemudahan ini tentu dibarengi dengan risiko-risiko lainnya. Nah, mengenai kemudahan dan risiko ini saya musti belajar lagi, beruntung hari Jumat 23 November 2018 ada Ngobrol Tempo yang membahas tentang hal ini. Acara ini diisi langsung oleh Hendrikus Passagi (Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK), Tumbur Pardede (Ketua Bidang Kelembagaan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, CEO dan Founder Fintag), Zulfitra Agusta (CCO Crowdo) dan Surya Wijaya (CIO KlikAcc).

Para pembicara memberikan banyak insight mengenai kemudahan dan risiko yang musti kita kenalin bahkan sebelum melakukan invetasi ke produk fintech yang memang dikenal mudah. Sebelumnya kita musti tau bahwa ada berbagai macam bentuk fintech: ada payment, crowd funding, digital banking, capital market, insurtech dan supporting fintech. Nah, P2P lending ini termasuk di kategori crowd funding.




Awalnya saya memilih untuk melakukan investasi fintech melalui P2P lending selain hasil rekomendasi dari seorang kawan, tapi juga karena ingin membantu UMKM di Indonesia yang melakukan peminjaman melalui P2P lending, tanpa tahu bahwa ada berbagai macam produk fintech. Selain itu ternyata P2P lending itu juga ada yang legal dan ilegal! Ngobrol Tempo kali ini para pembicara memberikan kiat-kiat untuk kita para lender (sebutan untuk orang yang melakukan 'investasi' atau pendanaan). Yang pertama tentu Pengecekan Legalitas penyelenggara apakah sudah terdaftar di OJK atau belum. Hal ini musti benar-benar cek sedari awal sebelum melakukan investasi. P2P lending yang sudah terdaftar dan memiliki ijin OJK dapat di cek di laman OJK sesuai dengan Peraturan OJK No 77 Tahun 2016. Beruntung P2P Lending yang sudah saya gunakan sudah terdaftar karena memang sebelum melakukan investasi di sana, saya melakukan pengecekan juga terlebih dahulu. Ada banyak P2P lending yang bodong alias ilegal, jadi kita musti waspada dan melakukan pengecekan ini.

Yang kedua, pahami risiko setiap calon peminjam sesuai dengan score peminjam yang ada di platform. Setiap P2P lending kayaknya sudah melakukan profiling dari setiap peminjamnya. Sehingga dengan mudah kita bisa tahu bisnis dari peminjam ini apa, bagaimana tingkat risiko kalau kita meminjamkan uang ke sana. Yang ketiga, diversifikasi pemberian pinjaman. Nah yang ini musti kita lakukan, jadi sebarin uang yang mau di investasi ke beberapa peminjam di platform P2P lending yang kita gunakan. Jangan di satu peminjam saja. Yang ke-empat, bandingkan risiko dan imbal hasil pinjaman antar penyelenggara. Kalau yang ini saya memang belum melakukan, saya baru mencoba melakukan di P2P lending yang menurut rekomendasi kawan sesuai dengan syariat Islam, dan masih sedikit P2P lending yang syariah, sehingga saya tidak melakukan perbandingan. Kiat terakhir adalah bila penyelenggara terdaftar di OJK tersebut melakukan pelanggaran, maka segera laporkan ke AFPI dan OJK yaaa.


Semoga para penyelenggara P2P Lending di Indonesia ini amanah ya, karena memang hal yang paling dasar dari P2P lending itu adalah KEPERCAYAAN, baik dari pemberi dana (lender), penyelenggara (platform) dan peminjam (borrower).





Percakapan, diskusi dan bahkan berdebat saat ini bisa diakomodir melalui ponsel, pun hanya berbasis teks. Saya bergabung di beberapa grup aplikasi perpesanan, yang orang-orang didalamnya pun dari berbagai latar belakang. Ada yang masih kuliah, lanjut kuliah S2 dan S3, ada yang telah berkarya dengan membangun perusahaan rintisan, ada yang bekerja di berbagai bidang. Ada yang masih sendiri dan banyak pula yang telah berumah tangga. Topik yang kami bahas seringkali beragam, mulai dari candaan sampai hal serius. Mulai dari bahas hal receh bahkan sampai hal yang berbobot. Kamu gimana, pasti punya grup aplikasi perpesanan yang kayak gitu kan? :)

Pembicaraan berbobot dan sering diikuti diskusi dengan tema yang sama namun dari berbagai grup aplikasi perpesanan tersebut adalah tentang Internet yang sudah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dan bagaimana pola asuh terhadap anak yang merupakan digital native. Digital Native ini menurut Marc Prensky merupakan generasi yang saat ia lahir sudah berada pada lingkungan dengan perkembangan teknologi baik komputer, internet, dan lainnya dengan pesat.

Banyak pro kontra bagaimana memberikan anak akses berselancar di dunia maya. Pembicaraan kami semakin menarik saat semakin bermunculan pada calon bapak dan ibu atau orang tua yang anaknya masih TK bahkan balita yang “khawatir” dengan kemahiran anaknya mengoperasikan ponsel pintar. Saya sendiri mengangguk, mengiyakan kekhawatiran tersebut karena keponakan-keponakan saya-pun mahir menggunakan ponsel pintar, laptop dan juga komputer di rumah. Mereka bisa menghidupkan gawai-gawai tersebut, membuka pemutar video daring dan mencari sendiri video yang mereka suka. Lagu bernada Baby Shark dengan berbagai macam lirik, itu yang selalu diputar. Bahkan kerap kali melakukan panggilan video dengan saya, dan itu keponakan saya sendiri yang melakukan panggilan tersebut (FYI usianya baru 2thn).

Ada pula seorang bapak yang berkomitmen untuk menjauhkan gawai dari anaknya. Namun apa daya, karena ia tak hidup dengan anaknya sendiri tapi dengan istrinya juga ada keluarga dan tetangga di sekitar anaknya. Jadi anaknya pun akan menangis jika tidak diperbolehkan memegang ponsel. Ada yang menimpali bahwa sama halnya dengan anaknya, sehingga akhirnya bapak yang satunya ini memberikan batasan kepada anaknya hanya untuk menonton satu video saja.

Sebagai mahasiswa TI dan sering mengikuti berbagai kegiatan TI, saya kerap kali diminta untuk berbagi tips, bagaimana mereka harus bersikap. Sebuah dilema tentu saja, karena saya sendiri belum menikah dan punya anak, bagaimana saya bisa berbagi tips?



Saya mulai menyaring informasi-informasi dan pengalaman-pengalaman mana saja yang bisa saya bagikan kepada mereka. Saya tidan memberikan tips, namun biasanya saya hanya berbagi kisah saja, apa yang saya lakukan dalam menggunakan internet sehari-hari dan memanfaatkan teknologi ke hal-hal positif, tentu tidak semua saklek bisa diterapkan sebagai “pola asuh”. Menghindari internet juga bukan hal yang mudah, maka yang dibutuhkan adalah kemampuan dalam memilah dan memilih apa yang menjadi asupan kita (dan anak) melalui internet. Kenapa musti dipilah dan dipilih? Karena di internet ada banyak konten yang tak hanya baik tapi ada pula konten yang tidak sesuai dengan adab dan norma. Kontrol diri (bagi saya) dan kontrol dari orang tua (untuk kakak2 saya dan para orang tua) untuk memberikan akses internet kepada anaknya sangat penting. Diperlukan adanya komitmen dan ketegasan dalam hal ini.

Selain itu, pun beberapa kali saya diminta oleh bapak kepala perpustakaan daerah atau guru-guru di sekolah untuk mengisi acara terkait perkembangan teknologi. Tentu hal yang sama yang saya bagikan. Bagaimana memanfaatkan internet baik. Saya bersyukur semakin kesini semakin banyak yang sadar akan pentingnya menyebarluaskan literasi digital dengan lebih positif. Kita juga cukup beruntung ada Program Internet BAIK yang diluncurkan pada 2016 oleh Telkomsel dengan menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bertujuan menciptakan ekosistem digital yang positif dan konstruktif dengan penggunaan internet Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif. Bahkan, kampanye #internetBAIK ini melibatkan Yayasan Kita dan Buah Hati yang fokus dalam kegiatan konsultasi, pendampingan, pelatihan, dan advokasi seputar isu keluarga dan pengasuhan anak. Hal ini tentu penting sekali, mengingat dari beberapa grup aplikasi perpesanan yang saya sampaikan diatas, bahwa banyak yang khawatir bagaimana mengasuh anak digital native. Selain Yayasan Kita dan Buah Hati, ada pihak lain yang dilibatkan, yaitu ICT Watch sebagai organisasi penggagas awal gerakan digital literasi 'Internet Sehat' dan Kakatu, aplikasi yang dapat digunakan untuk memproteksi dunia digital anak agar terhindar dari kecanduan gadget, permainan online dan konten negatif lain yang ada di dalamnya. Nah yang ini penting juga, proteksi dunia digital. Jadi bukan menghindari tapi melakukan proteksi dunia digital bagi anak.



Kepedulian dari Telkomsel dengan adanya Program #internetBAIK tentu harus dimanfaatkan dengan baik.  Kehadiran seperangkat navigasi dan panduan yang dapat kita (pengguna internet) gunakan untuk dapat mengambil sebesar-besarnya manfaat, dan menekan sekuat-kuatnya dampak buruk yang ada di dalamnya. Perangkat navigasi dan panduan ini mengacu pada norma dan etika yang penuh tanggung jawab, melibatkan pemahaman tentang resiko perilaku online yang berbahaya. Sehingga kita akan semakin sadar pentingnya melindungi diri sendiri dan orang lain dan tentu menerapkan perlindungan diri tersebut secara aman. Para calon orang tua dan orang tua saat ini pun kini bisa belajar melalui panduan, workshop dan seminar yang diadakan oleh #internetBAIK. Internet Baik ini tentu tidak dapat berjalan sendiri, kita musti ambil peran juga dalam internet Baik. Semua orang bertumbuh untuk menjadi semakin baik kan? Ambil peranmu dalam #internetBAIK ya. :)

Keamanan berbanding terbalik dengan kenyamanan.  Begitu kalimat yang sering kita dengar. Antara setuju gak setuju, ya terkadang memang begitu adanya.

Fenomena GDPR (General Data Protection Regulation) sudah umum didengar semenjak kasus Facebook. Sudah banyak pula pakar yang membahas tentang hal ini. Teman-teman bisa googling terkait hal tersebut ya. Saya tidak membahas tentang GDPR lebih lanjut, karena nampaknya pengetahuan saya pun tak sebanyak itu. Saya hanya akan berbagi kisah tentang “bocornya data perusahaan” yang merugikan saya sebagai konsumen.

Hampir Ketipu 5 JUTA RUPIAH karena Data yang dicuri!

images from https://gdpr.report/news/2017/05/10/cifas-urges-better-fraud-education-rise-facility-takeovers/

Menginjak semester ke 3 (Februari-Juni 2018) kuliah di ibukota membuat saya yakin bahwa saya bisa benar-benar survive hidup di sini. Tapi setelah masuk bulan Maret, saya mulai merasakan yang namanya ibu kota kejam kesayangan ini!

Semester ini saya mengambil kuliah penuh, ditambah dengan saya mengambil Karya Akhir (penyebutan dari thesis/ penelitian sebagai syarat untuk lulus kuliah pascasarjana untuk program studi saya). Kuliah berjalan lancar meskipun tentunya membagi waktu ternyata tak semudah dan segampang yang kita omongkan dan canangkan.  Nilai turun sudah menjadi konsekuensi-lah, eits! Bukan itu pointnya! Kok saya malah curhat sih (^^)v. Di awal semester kemaren saya sudah seakan2 diuji sidang thesis #ups maksudnya saking deg-degan karena saya merasa mengalami/ terkena “penipuan”. Entah baiknya dinamakan penipuan atau tidak ya? Kalian bisa tanggapi setelah mendengarkan cerita saya ini..

Sebagai mahasiswa yang full mahasiswa alias tanpa sambil bekerja di suatu institusi, saya selalu merasa ingin membantu teman-teman kelas saya jika ada yang perlu dikoordinasikan. Semisal di semester 1 dan 2 lalu, saya jadi volunteer untuk mengkoordinir pembelian buku untuk masing-masing mata kuliah. Semester 3 sebagian dari kami memiliki peminatan yang berbeda sehingga pembelian buku-pun dikoordinir masing-masing kelas dengan peminatan tersebut. Hal yang berbeda di semester ini adalah kami akan segera membuat Jaket Angkatan. Untuk kelas kami, singkatnya setelah semua orang sibuk, saya pun mengajukan diri sebagai volunteer.

Pemilihan vendor, bahan, warna dan model anggap saja berjalan lancar. Kami mendiskusikannya via Whatsapp group. Voting ini itu dan intinya berjalan dengan semestinya. Kami memilih vendor yang sudah sering digunakan oleh salah satu perusahaan dari teman kami jika perusahaan mereka membuat seragam. Setelah ditelisik melalui websitenya, pun nampaknya memang vendor yang berkelas. Saya mulai email dan melakukan pemesanan, dilanjutkan komunikasi via telepon. Saya dimintai nomor telepon melalui email resmi perusahaan agar mudah dihubungi, katanya. Semua berjalan cepat dan aman, saat itu. Bendahara kami melakukan DP alias pembayaran awal untuk pemesanan jaket kami.

Keganjilan mulai datang saat masuk minggu ke-3 pemesanan. Jaket kami tak ada kabar, padahal jika sesuai janji, sebulan pun jaket sudah dikirim. Saya beberapa kali mengirimkan pesan melalui whatsapp, ada aja alasan rapat-lah, dinas keluar kota-lah dan sebagainya dari si penanggung jawab jaket kami di perusahaan tersebut. Kami-pun akhirnya mengetahui dari perusahaan tersebut bahwa tidak ada pemesanan atas nama saya. Kaget, bingung, cemas dan takut jadi satu. Kuliah padat, bimbingan progress penelitian sepekan sekali dan saat itu tambah satu lagi kesibukan saya, ngurusi si penipu ini.

Jakarta oh Jakarta, nampaknya kalau sudah kepepet orang akan berbuat segalanya ya!

Saya kesal sama diri sendiri karena gampang sekali tertipu. Saya mulai baca lagi email2 dengan perusahaan tersebut, dan ternyata email terakhir memang ganjil. Saat meminta nomor telepon saya, tidak ada signature customer survice seperti sebelum-sebelumnya. Saya mulai mengingat-ingat kembali percakapan pertama melalui telpon di mana ternyata saat itu saya memang lagi di jalan sepulang kuliah dan tetap bertanya dengan teman-teman terkait jaket tersebut sembari telepon. Saya mulai melihat beberapa obrolan chat dimana ternyata nomor rekening yang diberikan bukanlah nomor rekening atas nama perusahaan! Gilak dan saya langsung teruskan nomor rekening tersebut ke bendahara, bendahara juga langsung transfer DP-nya senilai 5juta. Bodoh! Saya menggerutu pada diri sendiri.

Self healing dan belajar menjadi Good Driver

 *Self Driving ini dibuka lho kelasnya oleh Prof Rhenald. Saya baru akan join. Bismillah ya..

Jujur saja, saya belum pernah membaca buku Prof Rhenald yang Self Driving, namun saya pernah membaca beberapa review tentang buku tersebut. Tentu esensinya berbeda dengan membaca langsung buku tersebut. Dan nampaknya mungkin kurang cocok juga dengan kasus saya sekarang, dan mungkin juga cocok dengan metode cocokologi yang saya gunakan. Hehe

Saya melakukan terapi diri dengan mencoba mengikhlaskan yang terjadi dan berencana mengganti uang kelas tersebut. Waktu menunggu jaket yang sudah sebulan tak jadi-jadi tentu tak bisa saya ganti. Saya sudah berdiskusi dengan sahabat-sahabat yang berada di kelas yang sama. Mereka kurang setuju jika saya melakukan ganti rugi, toh bukan kesalahan saya, katanya. Saya tentu menyalahkan diri sendiri yang kurang teliti dan kurang tegas saat mengurus jaket kelas. Saya terapi lagi diri saya dan mencoba mengendarai diri saya sendiri. Saya memutar otak, mengganti kata-kata negatif tentang si oknum dan mencoba kritis akan sesuatu.

Saya mencoba menumbuhkan prinsip-prinsip menjadi seorang driver yang saya baca dari review buku tersebut. Disiplin diri, Mengambil risiko, Plat to Win, The Power of Simplicity, Creative Thinking, Critical Thinking dan Growth Mindset. Kalau soal disiplin diri mungkin kurang tepat pada kasus saya saat itu, tapi saya mencoba menerapkan sasaran dalam kasus ini. Yaitu saya tidak boleh rugi secara materi dan segera menjadikan jaket itu JADI. Saya mengambil risiko dengan terus mendesak oknum untuk memberikan informasi tentang jaket saya. Singkat cerita, ia memberikan nomor “orangnya” yang katanya yang mengerjakan jaket kelas kami. Ternyata itu merupakan vendor jaket juga, namun dengan skala yang lebih kecil ketimbang perusahaan awal kami memesan, tentunya.

Saya tentu harus Play to Win donk. Saya punya sasaran untuk segera menjadikan jaket ini beneran jadi secara fisik dan tanpa kerugian materiil dari saya pribadi. Saya mulai optimis saat “orangnya” oknum tersebut ternyata bapak-bapak baik hati. Kami berkomunikasi via telepon, saya menjelaskan kronologis yang saya hadapi dan begitu pula bapaknya. Menurut bapaknya si oknum tidak berniat menipu, hanya saja mungkin kepepet atau gimana, karena sejujurnya bapaknya sudah membelikan bahan dengan uang yang diberikan namun tidak sejumlah 5juta, hanya 2juta saja, katanya. Baiklah, again saya percaya walau hanya melalui telepon. Saya sudah tak peduli dengan oknum asal jaket kami selamat.

Bapak tersebut ternyata belum menjahit jaket kami karena si oknum masih memiliki 3 orderan baju yang belum dibayarkan. Bapak vendor rumahan tersebut khawatir jikalau uang kami nanti dijadikan penutup untuk tanggungan-tanggungan sebelumnya, makanya bapaknya tidak pernah menjahit jaket kami selama satu bulan itu. Dia hanya membeli bahan saja, pertanda ia serius mau mengerjakannya.

The power of simplicity. Saya mencoba sesederhana mungkin agar saya tidak rugi dan bapak vendor rumahan ini juga tidak rugi karena sudah membeli bahan. Saya menghubungi oknum yang akhirnya memberikan saya dua pilihan (padahal sudah proses sebulan lho dari pemesanan), dia mau mengembalikan uang full 5 juta jika saya membatalkan pemesanan atau melanjutkan pemesanan dan satu minggu jaket jadi. Gilak! Emang iya satu pekan jaket bisa jadi dengan jumlah satu kelas kami? Kami (saya diskusi dengan sahabat-sahabat saya) memilih pilihan pertama, kembalikan uang kami. Dan karena tak ingin bapak vendor itu rugi karena bahan sudah dibeli, kami bekerjasama untuk tetap menjadikan jaket tersebut jadi dengan waktu yang ditentukan.

Masalah timbul lagi donk!!!! Gilak, oknum tersebut menghilang setelah memberikan informasi bahwa akan mengembalikan uang kami 5 juta tersebut. Bapak vendor juga tidak bisa menghubunginya. Gilak! Entah apa yang ia mau, saya mencoba Brainstroming (bagian dari Creative Thingking) bersama sahabat-sahabat saya memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya kamu memutuskan untuk ke Tangerang, ke rumah bapak bendor tersebut dan melihat bahan. Jika bahan bagus kami akan melanjutkan asalkan sudah terhitung bahwa 2 juta tersebut adalah uang kami sebagai DP membeli bahan. 3 juta yang lainnya yang dibawa oknum gimana? Perkara nantik! Ah bersyukur sekali ada sahabat-sahabat yang menemani saya ke Tangerang untuk melihat bahan dan menjelaskan kronologis secara langsung ke bapak vendor. Dan diakhiri dengan keputusan harga dari bapak vendor tersebut yang tentu saja lebih murah dari harga yang seharusnya kami bayar ke oknum. Jika ditotal seharusnya uang kami bahkan kembali sekian juta dari total yang seharusnya. Namun karena oknum kabur, saya berfikir untuk melakukan pembayaran sisanya menggunakan uang saya, toh gak sampai 5 juta yang awal dan gak sampai 3juta yang dibawa kabur itu sih.

Wait! Lagi-lagi beberapa sahabat saya dan teman-teman di kelas masih kurang setuju jika saya mmbayar sisanya, mereka bahkan tak berkeberatan jika menambah uang lagi atau minimal mengganti uang transport kami ke Tangerang. Kami tentu menolaknya, “uang transport tak perlu diganti, uang kekurangan pembayaran jaket-pun dipikirkan nanti saja saat jaket sudah jadi”. Begitu yang saya sampaikan. Padahal saya lagi memutar otak lagi kalau gitu si oknum tak boleh lepas.

Oh iya! Saat itu sekitar dua-tiga minggu setelah ketahuan bahwa pesanan kami tidak ada, si perusahaan tempat kami memesan jaket bersikukuh tidak mau bertanggung jawab. Ini perusahaan gede dan berkelas tapi gila sih managemennya. Bisa-bisanya data saya dicuri karyawannya. Saat saya menghubungi perusahaan tersebut untuk minimal bertanggungjawab, saya dilempar sampai ke 3 orang. Beh.  Minimal bantu memberikan solusi-lah jika tidak bisa ganti rugi 5juta, saya malah dimarahin donk saya bapak-bapak tersebut (atasannya si oknum) dengan nada keras melalui telepon! Katanya saya sekolah tinggi tapi kok bisa-bisanya transfer bukan ke rekening perusahaan dan percaya begitu saja. Gila dah. Sejujurnya saya sakit hati saat bapak itu menyatakan kalimat yang tak pantas itu. Saya mencoba sabar dan menahan kemarahan saya. Oke it’s enough kesalahan saya yang bodoh tidak teliti, tapi please mengkaitkannya dengan pendidikan yang saya tempuh saat ini dan sebetulnya tidak mudah, itu menyakitkan!

Saya menjelaskan kembali meskipun sedikit jengkel dan meminta bapaknya minimal memberikan data diri oknum yang ternyata sepekan setelah saya melakukan pemesanan ia telah resign. Ish, ini termasuk pencurian data pribadi gak? Secara nomor telepon saya diambil sama karyawannya lalu kami bertransaksi dan yah kasus ini-pun terjadi! Silahkan dinilai apakah itu pencurian data pribadi terkait GDPR atau enggak. hehe

Lanjut tentang mencoba self driving. Saya mencoba untuk berfikir kritis di keadaan serba ribet tersebut. Semester 3 akan berakhir, tugas semakin numpuk, tidak ada yang memikirkan jaket lagi, apalagi uang yang dibawa kabur sama si oknum. Saya yang masih memiliki rasa bersalah akan kebodohan  ketidak telitian yang saya lakukan, tentu memutar otak untuk tetap agar teman-teman tidak membayar uang kekurangannya. Saya dibantu salah seorang teman di kelas mencari titik lokasi terakhir nomor si oknum dan ternyata masih tetap di rumahnya. Saya mendapatkan informasi terakhir dari bapak vendor rumahan tersebut yang ternyata rumahnya dekat dengan si oknum sebetulnya, bahwa si oknum itu tinggal dengan mertuanya. Bingo! Saya telah mendapatkan data pribadi si oknum dari HRD perusahaan yang memiliki managemen buruk itu, plus nomor istrinya. Saya ingat tentang kasus Social Engineering (please googling it, biar temen-temen waspada) yang marak terjadi. Bukan! Bukan saya akan melakukan social engineering. Saya ingin mengambil part psikologis-nya saja. Saya menghubungi istri si oknum dengan memberikan penjelasan singkat bahwa sebetulnya tidak ingin istrinya terlibat dalam hal ini, namun karena suaminya tidak bisa dihubungi bahkan hampir sebulan, maka kami memutuskan akan melaporkannya ke pihak berwajib (ini tidak bohong lho, sahabat saya di kelas yang sama dengan saya sudah menghubungi sahabatnya yang bekerja di kantor pengacara terkait proses pelaporan, dan dikasih solusi untuk memberikan surat peringatan saja). Sedikit kebohongan yang saya lakukan adalah saya bilang bahwa pada hari senin (karena saat itu hari sabtu), surat itu akan sampai di rumah orang tua anda (alias mertua si oknum). Singkat cerita, si istri nampaknya khawatir jika suaminya dimarahin atau menyebabkan masalah di rumahnya, sehingga akhirnya saya dihubungi nomor yang tidak dikenal dan Bingo! itu adalah si OKNUM itu. Dengan berbagai alasannya dan tanpa meminta maaf sedikitpun, ia berjanji akan mengembalikan uang sisanya pada hari minggu setelah bertemu dengan bapak vendor rumahan tersebut (dalam kondisi dia tidak tahu bahwa kami tetap melanjutkan jaket tersebut).

Dan jeng jeng alhamdulillah, meskipun sekali lagi dia tidak meminta maaf sama sekali kepada saya dan menyerahkan begitu saja ke "orangnya" uang sisanya (jadi dia berdalih ke saya bahwa dia sudah memberikan semua uangnya ke "orangnya" alias ke bapak vendor, saya boleh ambil uang 3 juta dan bahan yang sudah dibeli di bapak vendor rumahan tersebut. Kurang ajar si emang si oknum ini -.-), saya bersyukur sekaliiiiiiiii. Serius lega banget. Dan 2 pekan berikutnya jaket selesai dengan hati super lega meskipun ada beberapa teman kecewa karena ukurannya atau jahitannya yang kurang rapi dibeberapa sudut. Tapi overall semuanya beres dan teman-teman satu kelas bahagia karena bahannya bagus dan bahkan kami memiliki uang sisa, karena mendapatkan harga yang jauh dibawah harga awal. Bendaharapun sibuk mengembalikan uang sisanya ke teman-teman. Hehe
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. - Terjemahan QS. Al Baqarah: 286

Alhamdulillah alhamdulillah, saya bisa mengakhiri semester 3 tanpa harus merasa bersalah dan mulai berlatih mengembangkan mindset menjadi seorang driver. Tentunya saya juga harus menyelesaikan Karya Akhir saya agar segera lulus. Doain lancar dan berkah dalam mengerjakan Karya Akhir saya ya teman-teman yang budiman :)

Point yang musti di highlight dari kisah saya adalah (1) please lindungi data diri, jangan kasih nomor telepon ke sembarang orang. Saya sudah terlanjur percaya melalui email, jadi saat ditelepon ya berasa itu benar. (2) Belajar dan berlatih self driving dah! Gak ada kata terlambat, saya juga baru mau belajar lagi setelah kasus itu. (3) Kalau kamu punya perusahaan tolong banget jaga data konsumen kamu, jaga data perusahaan kamu, kasih perjanjian ke karyawan yang akan resign. (4) Silahkan cari pointnya sendiri dan berikan melalui komentar dibawah ini ya :D
Masih ingat tentang kisah BandungBondowoso yang diminta oleh Roro Jongrang untuk membuat 1000 Candi hanya dalam waktu semalam?

Kesaktian Bandung Bondowoso yang dalam semalam dapat membuat 1000 Candi ini sering dijadikan kiasan untuk melakukan sesuatu yang berat ataupun banyak dalam waktu singkat. Misalnya saja saat jaman kuliah sarjana dulu, istilah menjadi “Bandung Bondowoso” kerap kali kami gunakan jika kami harus mengerjakan tugas coding dalam waktu sehari saja, kami terkadang juga menyebutnya Sistem Kebut Semalam. Dan nampaknya istilah ini juga cocok dikenakan oleh Indonesia, dimana untuk kali perama ada negara yang menyelanggarakan Asian Games dengan waktu kurang dari 4 tahun.

Fakta unik bahwa Jakarta dan Palembang, Indonesia merupakan Bandung Bondowoso nya Asian Games ke-18 ini diawali dengan mundurnya Hanoi, Vietnam menjadi tuan rumah pada tahun 2014 lalu. Persiapan Indonesia untuk menyambut perhelatan akbar di Asia ini tentu juga tidak main-main. Bahkan, ini kali pertama Asian Games diadakan di dua kota sekaligus. Bagaimana ya persiapannya?

Ngobrol Tempo - Persiapan Jakarta menyambut Asian Games 2018



Terlihat banyak ruas jalan di Jakarta dihiasi dengan atribut Asian Games, mulai dari baliho, banner, mural dan ornamen warna warni lain khas Asian Games 2018. Mulai dari warga dan masyarakat sekitar dan tentu saja pemerintah, semuanya menyambut Asian Games 2018. Persiapannya sendiri terus dikejar oleh Jakarta. Saya mengikuti acara Ngobrol bareng Tempo yang dihadiri langsung oleh Pak Sandiaga Uno yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pak Teuku Sahir yaitu Wakil Dirut Ancol dan Wakil Presiden INASGOC yaitu Pak Sjafrie Sjamsoeddin pada 26 Juli lalu untuk mengetahui seberapa jauh Jakarta mempersiapkan Asian Games. Acara ini dibuka dengan tarian lenggang betawi dipadukan dengan freestyle sepeda, keren!

Dari segi infrastruktur tentu Jakarta masih mengerjar hal tersebut. Perluasan Ganjil Genap dan Anjuran untuk menggunakan angkutan umum merupakan salah satu hal yang dilakukan untuk Asian Games. Selain itu, tentu saja, kali hitam sentiong yang sempat menjadi ramai karena Pak Sandiaga Uno tidak mau menyebutnya seperti yang warga sebutkan yaitu Kali hitam ini juga sedang difikirkan solusinya.



Selain dari segi infrastruktur Jakarta, Ancol yang merupakan salah satu venue yang menjadi lokasi pertandingan untuk cabang olahraga jetski dan layar ini ternyata salah satu lokasi terbaik Jetski di dunia lho!  Ancol terlihat sangat mempersiapkan venuenya dengan baik. Selain lokasi pertandingan, Ancol juga menyiapkan berbagai macam event dalam rangka memeriahkan Asian Games 2018. Acaranya macam-macam nih, mulai dari beragam atraksi, hiburan dan festival bernuansa. Tajuk yang digunakan Ancol kali ini adalah Ancol Asian Festival 2018. Kalian bisa mengunjungi Ancol Kampung Betawi di Pasar Seni, Asia Lantern Festival di Pantai Ancol, Ancol Aquathion di Pantai Lagoon dan Ancol Kemerdekaan Festival di Pantai Carnaval.

Ngobrol bareng Tempo ini semakin seru saat Q&A karena ternyata tidak hanya pertanyaan namun peserta juga memberikan masukan terkait persiapan Jakarta menyambut Asian Games 2018. Misalnya saja masukan dari ketua Disabilitas Kreatif Indonesia yang berharap ada pendaftaran volunteer khusus yang tidak bisa online sehingga bisa dilayani secara offline. Ada lagi saran dari peserta lain terkait kendaraan khusus yang beroperasi saat Asian Games dan beberapa diskusi lainnya. Pertanyaan tentang Polusi Udara juga dijawab oleh pak Wakil Gubernur dengan solusi yang sudah mulai dikerjakan seperti misalnya perluasan ganjil genap tadi.



Saya really appreaciate sama INASGOC si, karena bener-bener berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan Asian Games ini. Selain itu tentu warga Jakarta yang juga seakan-akan berlomba mempercantik wilayahnya bahkan dengan modal sendiri! Mantabs.

Mari kita sukseskan Bersama Asian Games 2018, Semoga Atlet Indonesia bisa memperoleh target setidaknya 20 medali emas dan masuk 10 besar ya. Aamiin
Mimpiku sesederhana waktu, waktu yang mengajarkan aku, bernafaslah dengan iramanya, irama kehidupan” – Meet me after sunset

Masa putih abu-abu konon katanya menjadi masa yang paling indah karena selalu dibumbui dengan pertemanan, persahabatan dan cinta. Pelabelan makna cinta yang kurang tepat (menurut saya) dengan pacaran membuat drama kehidupan remaja menjadi semakin “mendrama”. Bahkan jika saya menoleh kebelakang, gaya berpacaran teman-teman saya jaman SMA dulu dan anak jaman SMA sekarang nampaknya sudah sangat berbeda. Saya sendiri memang tidak menganut paham pacaran, jadi tidak bisa bercerita tentang pengalaman. Hanya saja, saya bisa melihat dan mendengar gaya berpacaran mereka (anak jaman dulu dan sekarang).

Agak miris memang, karena berasa ada kemrosotan akhlaq, kalo terlalu islami, maka kita sebut saja sikap atau attitude. Memang tidak bisa digeneralisasi, namun kebanyakan yang saya lihat kok begitu. Hal ini tentu juga dipengaruhi oleh apa yang mereka tonton. Mulai dari sinetron di TV yang menayangkan pacaran dan segala adegannya adalah merupakan hal yang biasa, dan juga film percintaan remaja yang sudah biasa dengan pegangan tangan, peluk dan bahkan cium pipi atau dahi.

Namun berbeda dengan film cinta remaja, Meet me after Sunset, yang baru saya tonton dalam acara Press Screening pada tanggal 09 februari 2018 bersama Blogger Crony. Ia menghadirkan rasa yang berbeda meskipun dengan nama cinta. Film ini benar-benar digarap untuk remaja tapi ternyata dewasa pun dapat menikmatinya. Hal ini terlihat saat kemaren Press Screening yang dihadiri lintas usia juga. Proses produksi filmnya bahkan berjalan hingga satu tahun untuk memberikan hasil yang maksimal dan apik.

Apa yang membuat Meet me after Sunset ini berbeda?



Film yang dibintangi oleh Maxim Bouttier, Agatha Chelsea, Billy Davidson, Yudha Keling, Iszur Muchtar, Febby Febiola, Oka Sugawa, Marini Soerjosoemarno dan yang lainnya ini diproduksi oleh MNC Pictures. Filmnya memang genre remaja, diatas 13 tahun baru bisa nonton film ini. Filmnya cukup romantis tapi tidak ada unsur “mesra” yang berlebihan. Apalagi untuk remaja. Itu menjadi point penting film ini. Saya cukup menikmati filmnya. Tidak ada gandeng tangan, pelukan apalagi ciuman, dimana ketiga adegan ini biasanya ada di film percintaan remaja jaman now.

Saya bersyukur mas Danial Rifki, mensutradarai film ini dengan Apik. Semua unsur digunakan di sini. Ada kesan mistis, dongeng, drama, keluarga, cinta, teman, sahabat, imajinasi, semuanya tumplek blek jadi satu. Kemasannya menarik, jadi keribetan berbagai unsur itu juga masih nyambung-nyambung saja.

Sempat bercakap dengan mas Danial mengenai proses pembuatan film ini dan ternyata produksinya cukup lama, satu tahun. Hal ini karena proses editing dibelakang dimana saat pengambilan gambar kebanyakan siang hari dan harus diubah di malam hari. Hal ini dibantu dengan teknologi Computer Generated Imaginary.  Saya bayangin editing film siang ke malam pasti ini yang bikin lama, ditambah lagi filmnya memang banyak sentuhan yang apik.

Selain itu, mas danial memang terinspirasi dari banyak referensi film, selain pembuat film, ia juga penggemar film. Jadi kalau ditanya inspirasinya dari mana, ya banyak! Saya sendiri saat melihat posternya sudah menebak-nebak,

“sedikit dongeng nih kayaknya karena mirip sama cerita serigala dan gadis pertudung merah, eh tapi ada flyer bergambas astronot, mungkin mirip sama film Midnight Sun (タイヨウのうた, Taiyō no Uta) dari Jepang nih, eh atau jangan-jangan vampire ala-ala kayak sinetron.”  - ini pembicaraan saya dalam otak.


Buku catatan peran utama perempuan, tapi pernah terbawa oleh pemeran utama laki-laki

Film ini cukup bagus karena nilainya yang dikemas apik tanpa bumbu-bumbu cinta yang bernafsu. Kalau kata mas Danial, "  “Ini film cinta remaja yang berbeda, tidak ada pegangan tangan, ciuman, pelukan, tapi dihadirkan dengan rasa yang sama. Itu memang hal yang sengaja ingin kita hadirkan untuk mengedukasi kalau cinta remaja nggak perlu yang seharfiah itu. Kalau mau sayang nggak perlu pelukan". Ditambah lagi ada pesan tersirat dimana mewujudkan mimpi dan cita-cita itu hak bagi semua orang. Seperti kutipan di atas yang saya ambil dari buku diary pemain utama perempuannya.

Jika penasaran, kalian bisa buka trailernya di Youtube. Film ini akan tayang pada tanggal 22 Februari 2018 nanti. Selamat menonton!

Jerawat adalah masalah yang paling bandel bagi saya yang memiliki produksi minyak di muka yang super banyak ini. Kandungan minyak berlebih di hidung dan dagu menjadi pusat alias sarang tumbuhnya jerawat. Mencoba berbagai produk kecantikan, cuek, coba lagi, cuek lagi karena tidak kunjung berhasil. Selepas menggunakan, berjerawat lagi. Saya tetap menggunakan sabun muka khusus jerawat setiap hari, walaupun tidak begitu maksimal hasilnya.

Nah, serangkaian percobaan yang saya coba sebelumnya hanyalah “membersihkan” muka saja. Tanpa memberikan nutrisi yang beneran untuk muka. Akhir desember lalu saya mencoba sebuah skincare asli Jepang yang saat pengaplikasiannya cukup membuat saya kaget!

V10 Plus Skincare dengan Bahan Alami

Skincare yang saya coba ini namanya kurang familiar di telinga saya, V10 Plus. Skincare ini berasal dari Jepang  dan telah mendapatkan banyak award di bidang beauty lho. Mulai dari Best Soothing Cleanser, Smart Shopper Award, L’Officiel Beaute Awards, The Most Interesting, informative and Well Launched Brand,  TOP 100 Singapore Excellence Award dan masih banyak lagi, coba cek saja di websitenya di https://www.v10plus.co.id/

Setelah membaca banyak referensi dari website V10 Plus, jelas sekali bahwa produk ini terbuat dari bahan alami, bebas bahan kimia, water based, dibuat oleh Ahli kulit khusus dan teruji di laboratorium.

Produk dari V10 Plus ini mulai dari Basic Care, Face Serum dan Special Care. Kali ini saya mencoba 2 Paket Produk, face serum dan special care dari V10 Plus Indonesia yaitu 1 Paket Peeling Sachet isi 10 dan 1 Paket Serum Sachet isi 10.

Water Based Peeling yang bakalan bikin kamu suka banget


Awalnya saya agak ragu apakah benar bruntusan komedo dan kulit mati bakalan terangkat dengan peeling yang berbentuk cairan ini. 1 paket water based peeling ini terdiri dari 10 sachet (2ml). Kemasannya cukup unik karena memang dalam bentuk sachet, jadi cocok untuk dibawa kemana-mana. Satu sachet ini bias digunakan 2-3 kali, sayangnya tidak ada zipper di tiap kemasan, jadi khawatir kurang higienis saat akan digunakan kembali.

Nah di setiap kita ambil satu sachet ada testimoni dari para selebriti Indonesia yang menggunakan V10 Plus. Jadi bikin saya untuk ingin segera coba.

Sesuai dengan namanya, karena berasal dari air jadi memang bentuknya cair dan berwarna putih bening. Peeling ini memiliki kandungan ekstrak beras yang merupakan sumber alami dari beberapa jenis antioksidan sehingga berfungsi melawan radikal bebas. Selain itu juga mengandung ekstrak rumput laut yang konon katanya memang dipercara memeliki sifat penyembuhan alami, mengurangi selulit dan memberikan kelembapan alami. Nah, kulit saya ini cukup sensitive jika berganti produk, tapi ternyata saat menggunakan V10 Plus tidak menimbulkan iritasi, mungkin karena memang terbuat dari air, jadi aman.

Adapun fungsi dari Water Based Peeling :

  1. Mencegah Timbulnya Jerawat

  2. Membantu Regenerasi Sel Kulit

  3. Membuat Make-up Lebih Tahan Lama dan Alami

  4. Meningkatkan Daya Serap Kulit Terhadap Nutrisi Perawatan Kulit Anda

  5. Membantu Menghilangkan Komedo

  6. Mencerahkan dan Menghaluskan Kulit

  7. Mengurangi Bekas Jerawat

  8. Menyeimbangkan Sekresi Minyak Pada Wajah

  9. Mengangkat Sel-Sel Kulit Mati.

*Hari ke 1 menggunakan V10plus water based peeling, mengangkat sel-sel mati nya. Pas banget lagi tumbuh jerawat 


*Hari ke 7 menggunakan v10plus water based peeling

Cara menggunakannya juga gampang banget kok dan cepat. Kamu cukup bersihkan muka seperti biasanya (saya menggunakan sabun muka yang biasanya saya gunakan), lalu tunggu sampai kering. Setelah kering, aplikasikan saja peeling gel secara merata ke seluruh muka, biarkan 5 detik saja. Pijat memutar secara perlahan, saya menggunakan jari saja untuk memijat kulit muka saya. Lalu, taraaaaaa, kulit mati muncul seketika, berwarna putih seperti komedo. Lalu saya bersihkan dan bilas dengan air hangat. Suka banget pakainya! Karena teksturnya yang simple, ringan dan berasa keliatan hasilnya. Setelah menggunakan peeling, kulit wajah akan terasa kencang dan lebih halus.

V10 Plus Serum Anti Acne series


Setelah membersihkan muka dengan peeling dan air hangat, saya menggunakan serum yang anti acne series. V10 Plus Serum ini memiliki 5 series yaitu V10 Plus Serum Whitening Series, V10 Plus Serum Sensitive Skin Series, V10 Plus Serum Hydrating Series, V10 Plus Serum Anti Agin Series dan V10 Plus Serum Anti Acne Series. Saya menggunakan yang series anti acne karena memang kulit saya berjerawat seperti yang saya ceritakan di awal. Saya pernah menggunakan serum, namun tidak tahu menahu apa kandungannya, hanya saja disebutkan bahwa itu untuk kulit yang berminyak dan berjerawat dan hasilnya ya, biasa saja. Nah, kalau V10 Plus Serum ini berbeda, dia memisahkan masing-masing kandungan serumnya. Serum V10 Plus untuk anti acne itu terdiri dari 3 jenis serum yang berbeda yaitu Vitamin C Serum, Licorice Serum, dan Pycnogenol.

Ketiga jenis serum ini tentun memiliki fungsi yang berbeda-beda, vitamin C ini digunakan untuk wajah yang berjerawat dan mengecilkan pori-pori. Licorice ini untuk mengatasi iritasi dan peradangan. Ini menenangkan kekasaran yang disebabkan oleh alergi, jerawat meradang dan iritasi yang disebabkan oleh sengatan matahari. Dan pycnogenol yang berfungsi untuk menghilangkan oksigen aktif yang menyebabkan masalah kulit dan juga pycnogenol ini merupakan solusi kerusakan.

Cara menggunakan serum ini adalah dengan mencampur ketiga serum ini menjadi satu lalu dioleskan ke permukaan wajah. Teksturnya cair sehingga mudah digunakan dan juga mudah diserap ke dalam kulit. Serum ini juga tidak menggunakan pewarna buatan dan pewangi, jadi memang alami. Wajah saya terasa lebih kenyal setelah menggunakan serum ini.

Saat menggunakan ketiga serum ini menjadi satu pun memang tak ada iritasi dan memang terasa lebih kenyal. Namun sayangnya untuk kemasan karena memang sachet dan tidak ada zipper, lagi-lagi memang ada kekhawatiran tidak higienis saat digunakan lagi sih. Dan agak ribet karena musti mencampurkan ketiga serum itu sendiri. Namun pencampuran ketiga serum ini secara sendiri juga penting, karena kamu juga boleh tidak menggunakan Lirorice serum jika memang jerawat tidak meradang dan iritasi.

Untuk harga dan produknya kamu bisa langsung cek di https://v10plus.co.id/products/
Kamu bisa memilih produk sesuai dengan jenis kulit kamu girls.



Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang idak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan.” – Pramoedya Ananta Toer

Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah ungkapan yang cukup sering saya dengar. Peristiwa atau kejadian baik berkepanjangan atau sejenak singgah, menyenangkan maupun tidak menyenangkan, baik maupun buruk dalam perjalanan hidup. Kalau mau, kita bisa ambil pelajaran, motivasi dan mungkin juga peringatan atas kejadian tersebut untuk melanjutkan perjalanan hidup. Dan tak terasa sudah masuk ke tahun masehi yang baru. Pengalaman di hari-hari kemaren bisa menjadi guru terbaik kita, tentu jika mau mengambil hikmahnya.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tahun selalu ada kejadian yang bisa jadi tak pernah diprediksi sebelumnya. Bisa jadi rencana yang telah disusun setiap tahunnya terlaksana semua atau bisa jadi beberapa rencana belum tercapai. Kita berencana, Allah berencana. Dan Allah is the best of planners. Jelas dalam surat Al Anfal ayat 30.

Tahun 2017 menjadi tahun yang super seru. Alhamdulillah. Di tahun 2017 pula seperempat abad sudah usia saya. Tulisan ini sebagai bahan refleksi dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada saya dan barangkali ada yang terketuk mendapatkan pelajaran dari cerita yang mungkin remeh bagi pembaca.

Kuarter pertama 2017



A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on





Kuarter pertama 2017 diawali dengan pengalaman baru bagi saya memasuki bangku pascasarjana di Universitas Indonesia dan hidup di ibu kota, Jakarta. Memilih untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan adalah hal yang cukup membuat saya berfikir berulang-ulang. Bukan karena pekerjaan saya yang terakhir cukup lumayan gajinya dibanding sebelumnya, bukan. Tapi karena lingkungan di sekitar saya. Pendidikan bagi perempuan lulusan S1 saja sudah cukup dibilang “sangat tinggi”, apalagi saya akan melanjutkan S2. Presepsi bahwa perempuan cukup mengeyam pendidikan “seadanya” dan segera menikah, masih kental di lingkungan tempat saya tinggal. Khawatir mengesampingkan soal menyempurnakan agama ini juga menjadi salah satu bahan alot untuk meyakinkan keluarga bahwa saya benar-benar tidak mengesampingkannya, justru mungkin melanjutkan S2 atau hidup di Jakarta adalah salah satu jalan dari Allah untuk ketemu mas jodoh kan? singkatnya begitu.

Kapan nikah dan dengan siapa masih menjadi bahasan sepanjang tahun 2017 bahkan sampai awal 2018 ini. Kekhawatiran tersebut masih menyelimuti hati ibuk, meskipun sekarang saya sudah satu tahun menempuh jenjang ini.  Doa ibuk tak sekalipun luput disetiap sepertiga malam untuk saya agar segera bertemu jodoh dan menikah. Aamiin..

Farhamhuma kama rabbayani shaghiran..

Masa perkuliahan di pascasarjana ini cukup membuat deg-degan luar biasa. Pasalnya saya masuk program studi Magister Teknologi Informasi (MTI) yang didominasi orang-orang yang sudah berpengalaman pada bidangnya. Bahagia bisa dapat ilmu dari mereka, dan khawatir serta takut tidak bisa berimbang dengan mereka dalam menerima perkuliahan. Penyesuaian menjadi hal pertama yang musti saya lakukan. Menyesuaikan diri bagaimana cara belajar yang tepat di bangku pascasarjana, bagaimana menyesuaikan waktu, dan paling fundamental yaitu menyesuaikan hidup di Jakarta.

Di kuarter pertama ini juga saya isi banyak kegiatan. Niatnya tentu menyesuaikan diri hidup di Jakarta yang musti mengukur segala hal (jarak dan waktu) yang dekat, cepat dan tepat. Main ke kantor pusat kontraktor migas yang dulu saya sempat bekerja di salah satu proyeknya, offshore, jadi belum pernah langsung ke kantornya. Mengikuti beberapa acara teknologi informasi dan mencari perusahaan/ lembaga yang tepat untuk tugas kuliah (jadi musti hubungi teman atau yang sekedar kenalan untuk bisa mengerjakan tugas di perusahaan atau lembaga tempat mereka bekerja. Dan bahkan random pula mencari dan mengajukan ke perusahaan atau lembaga yang memungkinkan bisa penelitian di sana). Cukup hectic pula karena ada perjalanan-perjalanan singkat yang tidak pernah saya prediksi. Seperti di awal bulan Maret 2017, saya ke Lombok untuk beberapa hari dan pertengahan Maret 2017 saya musti ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat. Otak dan fisik saya cukup diuji di kuarter pertama 2017.  Di bilang lancar-lancar saja sebetulnya juga kurang tepat, tapi Alhamdulillah bisa dilalui.

Kuarter kedua 2017





A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on




Kuarter kedua terasa sedikit lebih berat di mana tugas semakin dekat dengan deadline dan tiba-tiba ada perjalanan singkat lagi ke Surabaya karena kakak senior saat sarjana dulu, yang sudah seperti kerabat, menikah. Dan saya pulang ke rumah sejenak pula setelah acara tersebut. Saudara-saudara berkumpul juga di rumah, ada pengajian dan sedikit kejutan untuk ibuk yang berulang tahun di bulan April. Ini bukan tradisi, tapi karena mau mengekspresikan cinta kamu ke ibuk, jadi untuk kali pertama moment yang pas semuanya berkumpul, kami memberi kejutan ke ibuk. Hanya dengan sebuah kue dengan beberapa lilin.hehe.. Ibuk terlihat sangat bahagia dan tak menyangka. Sedikit salah tingkah dan malu-malu. Ini kali pertama anak-anaknya, cucu-cunya berkumpul, ya memang tidak sengaja, di rumah tiba-tiba ada jadwal pengajian tepat di bulan April.

Dari bulan April sampai awal Juni, masih sama dengan yang kuarter pertama di tahun 2017,  saya masih menyesuaikan diri jika ada perjalanan jauh namun singkat semacam itu dan waktu dalam pengerjaan tugas kuliah yang sedikit berantakan. Tugas kuliah di pascasarjana sangat berbeda dengan jaman dulu di jenjang sarjana. Kasus per kasus harus benar-benar dianalisis dengan baik. Good data, good theory and good method. Itu doktrin pertama dari Pak Riri, salah satu dosen terbaik MTI, saat masa perkenalan program studi. Alhamdulillah berbagai tugas dan ujian akhir semester telah saya lewati dengan cukup. Nilai indeks prestasi baru muncul pada bulan juni yang cukup membuat saya deg-degan (lagi), karena nyaris dengan standar yang diberikan oleh LPDP, lembaga beasiswa yang menaungi saya.



A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on





Sadar bahwa ilmu agama saya kurang dan kurang, jauh-jauh hari sebelum libur semester yang sangat panjang (hampir 3 bulan), saya sudah merencanakan untuk mengikuti pondok pesantren kilat. Saya menghubungi berbagai pondok untuk bertanya apakah persyaratan mengikuti pesantren kilat. Hampir di semua pondok yang saya hubungi memiliki program 2 pekan, kurang lebih 15 hari awal Ramadhan. Sayangnya, saya baru kembali ke kampung halaman pada pekan kedua, ini berarti saya hanya bisa ikut satu pekan saja dalam program tersebut. Saya menghubungi dua pondok, dimana dari jadwal yang diberikan tidak ada maknani kitab atau memaknai kitab. Karena pasti saya akan keteteran di situ. Walhasil setelah satu malam sampai di rumah, besoknya saya langsung ke pondok Lirboyo untuk mengikuti program tersebut. Sayangnya setelah sampai ke sana, mbak-mbak pondok tersebut menyarankan saya untuk tidak ikut saja, karena sayang sekali semua kitab sudah khatam dibaca. Tanpa banyak berfikir saya langsung minta adek saya mengantarkan saya ke pondok Sumbersari, yang letaknya lebih dekat dari rumah saya. Dan yak, masih ada programnya dan kitab yang dikaji masih belum khatam. Fixed! Saya sepekan akan tinggal di sini. Dan handphone saya-pun mulai dititipkan selama program. Sebagai seorang yang tak pernah lepas dari handphone, awalnya saya khawatir apakah saya bisa bertahan. Namun, mengingat jadwal yang cukup padat, Alhamdulillah, saya bisa bertahan. Hehe

Kalau dibilang berat masuk pondok pesantren, walaupun kilat, ya, saya rasa memang berat, tapi sangat asik. Saya cukup bahagia berada di sana. Semua orang disibukkan dengan membaca kitab, buku dan menulis. Semuanya sibuk dengan ilmu. Damai rasanya. Kalau untuk kitab yang saya pelajari di sini, yah. Namanya juga kilat dan telat masuk, jadi saya hanya mengikuti pembahasan di seperempat kitab terakhir. Ada beberapa kitab yang dipelajari, salah satunya adalah  Ta'lim Muta'allim.

Kuarter  ketiga 2017





A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on




Selepas mengikuti pesantren kilat, tepatnya satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri, saya sakit. Bisa dibilang sakitnya cukup remeh, batuk, pilek, demam, pusing dan muntah-muntah. Saat dibawa ke dokter, tidak ada gejala penyakit tipus atau DB. Konklusi sementara oleh keluarga di rumah adalah mungkin kecapekan karena selepas dari Jakarta, saya langsung mondok disaat puasa dan dengan jadwal yang padat, terlebih belum pernah sebelumnya. Ya, itu mungkin saja. Saya tetap mengkonsumsi obat dari dokter , sakit tersebut berlangsung dua pekan, sampai pada sepekan setelah hari raya, baru saya sembuh total. Fyuh, baru kali ini saya sakit cukup lama.

Pertengahan Juli, saya melanjutkan perjalanan saya sebagai seorang blogger dengan mengikuti Juguran Blogger. Awalnya khawatir tidak mendapatkan ijin ibuk, tapi ternyata dapat. Bahagia lah saya! Saya mengunjungi banyak tempat di Banyumas melalui acara ini. Bertemu para blogger traveller high class dan mendapatkan ilmu kehidupan menjadi bonus yang sangat saya syukuri. Menanti Matahari di Bukit Tranggulasih, Inovasi Mutakhir Pompa Hydram Sudiyanto (Hysu) dan Belajar Falsafah Kehidupan dari Petani (Pejuang Tanah Air Indonesia) Banyumas adalah buah tulisan saya dari perjalana di Banyumas. Ditambah sebelum ke Banyumas, saya sempat berkeliling singkat di Jogjakarta, ditemani oleh Mas Dinnu (Local Guide Jogjakarta) dan  Dian (teman baru saya di Jogja) serta adeknya. Saya juga mengikuti acara Kopdar Local Guide Nasional di Batu dan sempat menginap semalam di Pondok Pesantren Gasek, Malang. Berasa bonus setelah sakit dari Allah ini keren banget lah! Bertemu banyak orang baru dan berbagi pengalaman baru yang menyenangkan dalam perjalanan.

Selain perjalanan “sendirian” ke Banyumas dan Jogja, untuk kali pertama saya ke pantai bersama Ibuk! Hoho, Tepatnya di bulan  Juli, ibuk harus mengikuti acara senam jantung sehat di Kota Kediri dan salah satu agendanya adalah ke pantai di Tulungagung (FYI dari tempat acara ke pantai di Tulungagung itu cukup jauh). Ikutlah saya untuk menemani ibuk. Adek saya yang pada dasarnya tidak bisa perjalanan darat menggunakan bus memutuskan untuk ikut serta juga (jadi ibuk bayar triple untuk perjalanan ini).  Lama tidak jalan-jalan, begitu alasan dia. Jadilah saya pasti “momong” dia dalam perjalanan. Tapi meskipun cukup PR harus menjaga adek yang mabuk darat, saya menikmati perjalanan ini. Ibuk sangat senang, ini kali pertama ibuk ikut acara jalan-jalan dari organisasi senam ini.



A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on





Kuarter ketiga ini saya tutup dengan sharing pengalaman dengan adek-adek di majalah SMA saya. Sebetulnya jika diminta untuk sharing, saya cukup bingung harus sharing apa. Jadi jatuhnya lebih ke cerita pengalaman saja.

Kuarter  keempat 2017

Well, ini kuarter terberat sepanjang 2017. Di bulan Oktober sampai Desember saya musti mengerjakan tugas semester 2 yang cukup berat semua (hampir semua mata kuliah). Lagi-lagi pontang panting sana-sini mencari tempat penelitian. Belum lagi topiknya. Giliran dapat topik dan tempat penelitian untuk salah satu mata kuliah yang tugasnya adalah tugas individu, pada detik-detik terakhir, saya harus mengganti topik saya. Mengganti topik tidak semudah jaman dulu saat S1. Mengganti topik berarti harus menemukan maslaah baru yang akan diselesaikan, yang berarti jika tidak ada masalah lain dalam perusahaan tempat kita mengerjakan tugas, berarti harus mencari tempat lain. Kuarter keempat ini penuh dengan drama dah! Yang kehujanan tiap ambil data, sakit selama sepekan di kos, sempat adu argumen dengan teman kelompok untuk tugas lain, dan lain sebagainya.

Tapi drama itu nampaknya terselesaikan dengan baik meskipun kurang maksimal. Saya berhasil menghubungi salah satu kantor pemerintahan untuk melakukan penelitian, 5 hari setelah email dikirim baru dibalas. Besoknya langsung mengadakan pertemuan dan yippi topik didapat! Waktu satu pekan mengerjakan bab 1 sampai bab 3 untuk penelitian tersebut adalah sebuah wacana karena saya kekurangan data. Walhasil saya hanya mengerjakannya dalam 2-3 hari saja. Tentu kurang maksimal. Saya masih sedikit sedih karena strategi awal saya dalam mengerjakan tugas ini sudah salah sehingga harus ganti topik segala. Meskipun topik yang sekarang cukup mendapatkan sinyal positif dari dosen saat presentasi. Kita tunggu saja hasilnya keluar pada bulan ini. Semoga melegakan hari saya. hehe

Meskipun kuarter terkahir tahun 2017 ini penuh dengan drama, saya masih menyempatkan diri untuk mengikuti acara-acara di Jakarta dan bertemu dengan teman-teman saya, serta mengikuti acara Google Top Contributor Summit di Singapura di awal bulan Oktober 2017 dan mampir ke Malaysia juga. Alhamdulillah.

So, sebetulnya masing-masing dari kita saya yakin punya kisah yang lebih layak diceritakan ketimbang kisah saya di 2017 ini. Lagi-lagi, saya menulis sebagai bahan refleksi saya untuk terus bersyukur. Nampaknya masalah saya hanya itu-itu saja ya?Ya karena itu saja yang layak dipublish dan nampaknya umum dialami oleh orang lain juga. Sungguh, menyembunyikan musibah merupakan sebagian dari simpanan kebajikan. Begitu kata-kata orang-orang salaf yang pernah saya baca.

In every life we have some trouble, when you worry you make it double, don’t worry, be happy. don’t worry be happy now! – Bob Marley