Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kembali memiliki 3 makna yang semuanya merupakan kata kerja. (1) Balik ke tempat atau keadaan semula, (2) lagi, dan (3) sekali lagi, berulang lagi.

Saya kembali. Yes I am here guys! Setelah sekian lama selalu menutupi rasa malas dengan berbagai alasan untuk tidak kembali menulis disini.
Barangkali ini hal yang klise. But honestly, sulit sekali memulai menulis kembali. Padahal, banyak sekali rasa yang ingin saya ungkap, cerita yang ingin saya tuangkan, kisah yang ingin saya tuliskan, makna dalam hidup yang ingin saya ukir disini sebagai tempat muhasabah diri. Dan barangkali bisa setidaknya sebagai bahan bacaan diwaktu senggang, atau pembelajaran, atau bahkan bisa menginspirasi kamu yang berada di depan monitor atau layar handphone saat ini.
It almost 1,5 years, i am inactive to post in instagram (sometimes I post instagram story, yaa, for keep my moment) dan ternyata hal tersebut memberikan efek gelembung ke sekitarnya. Saya jadi jarang sekali menulis te…
Postingan terbaru

Google for Indonesia, Ayo Majukan Indonesia Rame-Rame!

“Semangat, Jangan Takut, Banyak orang bantu, Google akan membantu, Woman Will akan membantu. Pasti bisa, saya sangat yakin sekali wanita-wanita, perempuan Indonesia bisa tetap maju, bisa tetap hebat di IT Digital, Yuk kita maju rame-rame!”
Pesan dari Bapak Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia, yang langsung saya dapat untuk diabadikan dalam Vlog baru saya yang bertajuk Bincang Ria. Dalam perbincangan singkat tersebut saya baru ingat untuk mengabadikannya di moment terakhir, saat beliau memberikan pesan-pesan untuk saya, perempuan Indonesia yang bergerak di bidang IT.
Bagi saya perempuan yang ada di dunia IT itu selalu menarik, karena dalam beberapa hal, saya sendiri merasa terkadang bahwa, iya, hal ini sulit, di mana memang banyak pria yang lebih mendominasi di dunia IT. Namun banyak juga kok perempuan hebat di dunia IT, I want to show you guys di Vlog saya tersebut. Well, seperti tajuknya kali ini, Maju Rame-Rame, Google Indonesia memang sedang berkomitmen dengan memberikan…

Belajar Mengenal Kemudahan dan Risiko Investasi di P2P Lending

Millennials aren't as smart about money as they think. Many young adults are managing jobs, student loans and home ownership, yet they fall short on financial know-how. - Jessica Dickler, CNBC Sebagai seorang yang lahir di tahun 1990an dan termasuk dalam generasi yang paham teknologi, maka saya termasuk dari Generasi Millenial yang menurut beberapa ahli, kami memikul a number of financial burdens (beban keuangan). Menurut Business Insider US, hal ini dikarenakan kenyataan bahwa kami, generasi millennial, tumbuh atau memasuki dunia kerja selama Great Recession sehingga menciptakan tantangan keuangan yang unik. Untuk menyikapi tantangan tersebut, saya mulai belajar mengenai keuangan agar menambah literasi finansial saya.


Tiga bulan lalu, saya mencoba melakukan "investasi" ke sebuah fintech, bentuknya peer to peer lending (P2P lending). Saya merasa sangat dipermudah dengan adanya teknologi, karena bisa melakukan investasi hanya melalui aplikasi dalam ponsel pintar saya. Na…

Menjadi Semakin Baik dengan #internetBAIK

Percakapan, diskusi dan bahkan berdebat saat ini bisa diakomodir melalui ponsel, pun hanya berbasis teks. Saya bergabung di beberapa grup aplikasi perpesanan, yang orang-orang didalamnya pun dari berbagai latar belakang. Ada yang masih kuliah, lanjut kuliah S2 dan S3, ada yang telah berkarya dengan membangun perusahaan rintisan, ada yang bekerja di berbagai bidang. Ada yang masih sendiri dan banyak pula yang telah berumah tangga. Topik yang kami bahas seringkali beragam, mulai dari candaan sampai hal serius. Mulai dari bahas hal receh bahkan sampai hal yang berbobot. Kamu gimana, pasti punya grup aplikasi perpesanan yang kayak gitu kan? :)

Pembicaraan berbobot dan sering diikuti diskusi dengan tema yang sama namun dari berbagai grup aplikasi perpesanan tersebut adalah tentang Internet yang sudah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dan bagaimana pola asuh terhadap anak yang merupakan digital native. Digital Native ini menurut Marc Prensky merupakan generasi yang saat ia lahir sudah …

Invoice Fraud, GDPR dan belajar Self Driving

Keamanan berbanding terbalik dengan kenyamanan.  Begitu kalimat yang sering kita dengar. Antara setuju gak setuju, ya terkadang memang begitu adanya.

Fenomena GDPR (General Data Protection Regulation) sudah umum didengar semenjak kasus Facebook. Sudah banyak pula pakar yang membahas tentang hal ini. Teman-teman bisa googling terkait hal tersebut ya. Saya tidak membahas tentang GDPR lebih lanjut, karena nampaknya pengetahuan saya pun tak sebanyak itu. Saya hanya akan berbagi kisah tentang “bocornya data perusahaan” yang merugikan saya sebagai konsumen.

Hampir Ketipu 5 JUTA RUPIAH karena Data yang dicuri!

images from https://gdpr.report/news/2017/05/10/cifas-urges-better-fraud-education-rise-facility-takeovers/
Menginjak semester ke 3 (Februari-Juni 2018) kuliah di ibukota membuat saya yakin bahwa saya bisa benar-benar survive hidup di sini. Tapi setelah masuk bulan Maret, saya mulai merasakan yang namanya ibu kota kejam kesayangan ini!

Semester ini saya mengambil kuliah penuh, ditambah …

Menengok Persiapan Jakarta menyambut Asian Games 2018 dalam Ngobrolbareng Tempo

Masih ingat tentang kisah BandungBondowoso yang diminta oleh Roro Jongrang untuk membuat 1000 Candi hanya dalam waktu semalam?

Kesaktian Bandung Bondowoso yang dalam semalam dapat membuat 1000 Candi ini sering dijadikan kiasan untuk melakukan sesuatu yang berat ataupun banyak dalam waktu singkat. Misalnya saja saat jaman kuliah sarjana dulu, istilah menjadi “Bandung Bondowoso” kerap kali kami gunakan jika kami harus mengerjakan tugas coding dalam waktu sehari saja, kami terkadang juga menyebutnya Sistem Kebut Semalam. Dan nampaknya istilah ini juga cocok dikenakan oleh Indonesia, dimana untuk kali perama ada negara yang menyelanggarakan Asian Games dengan waktu kurang dari 4 tahun.

Fakta unik bahwa Jakarta dan Palembang, Indonesia merupakan Bandung Bondowoso nya Asian Games ke-18 ini diawali dengan mundurnya Hanoi, Vietnam menjadi tuan rumah pada tahun 2014 lalu. Persiapan Indonesia untuk menyambut perhelatan akbar di Asia ini tentu juga tidak main-main. Bahkan, ini kali pertama Asian…

Menghadirkan rasa yang berbeda - Meet Me After Sunset

Mimpiku sesederhana waktu, waktu yang mengajarkan aku, bernafaslah dengan iramanya, irama kehidupan” – Meet me after sunset
Masa putih abu-abu konon katanya menjadi masa yang paling indah karena selalu dibumbui dengan pertemanan, persahabatan dan cinta. Pelabelan makna cinta yang kurang tepat (menurut saya) dengan pacaran membuat drama kehidupan remaja menjadi semakin “mendrama”. Bahkan jika saya menoleh kebelakang, gaya berpacaran teman-teman saya jaman SMA dulu dan anak jaman SMA sekarang nampaknya sudah sangat berbeda. Saya sendiri memang tidak menganut paham pacaran, jadi tidak bisa bercerita tentang pengalaman. Hanya saja, saya bisa melihat dan mendengar gaya berpacaran mereka (anak jaman dulu dan sekarang).

Agak miris memang, karena berasa ada kemrosotan akhlaq, kalo terlalu islami, maka kita sebut saja sikap atau attitude. Memang tidak bisa digeneralisasi, namun kebanyakan yang saya lihat kok begitu. Hal ini tentu juga dipengaruhi oleh apa yang mereka tonton. Mulai dari sinetr…