Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Belajar Falsafah Kehidupan dari Petani (Pejuang Tanah Air Indonesia) Banyumas

“Jika kita mempunyai keinginan kuat dari dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya.” – Ir. Soekarno
Mengembalikan Banyumas ke komoditi jaman dahulu, mungkin memang sebuah hal yang memiliki probabilitas yang kecil. Saat jaman Belanda, Banyumas merupakan tanah yang kaya. Beras Hitam, pala terbaik dan kayu manis terbaik dunia ada di Banyumas. Namun sayangnya hal ini mulai terkikis oleh waktu. Tanah Banyumas sudah tak sesubur dahulu karena kurangnya pengetahuan tentang cocok tanam dari masyarakat sekitar. Macam-macam tanaman di tanam, tidak tersistem dan bahkan kayu keras kerap kali ditemui, hal ini tentu cenderung dapat merusak tanah.

Edi Daryono, sosok sederhana dari Banyumas yang memiliki mimpi itu, mengembalikan Banyumas ke komoditi jaman dulu. Beliau adalah founder dari Padepokan Filosofi Yasnaya Polyana Indonesia dan juga pemilik kedai kopi “Bale Raos Coffee & Tea House” yang terletak di desa Windujaya, Kedung Banteng, banyumas. Tak jauh dari kawasan Wi…

Inovasi Mutakhir Pompa Hydram Sudiyanto (Hysu)

“Capital isn’t that important in business. Experience isn’t that important. You can get both of these things. What is important is ideas.” – Harvey S. Firestone, Industrialis America

Kutipan dari Harvey yang merupakan seorang industrialis ini nampaknya memang benar. Ya, uang tak lagi penting, bahkan pengalaman yang penting-pun menjadi tak begitu penting. Kita dapat mendapatkan keduanya, baik pengalaman maupun uang. Yang paling penting disini adalah Ide yang dieksekusi.

Sebuah ide untuk membuat pompa air muncul dari Pak Sudiyanto, warga Banyumas biasa yang ingin mengalirkan air ke Desa Kotayasa Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Keinginan ini lahir karena adanya kebutuhan. Warga desa Kotayasa ini harus turun ke sungai setiap harinya untuk mendapatkan air bersih dan keperluan mandi, cuci serta kakus. Sungai tersebut memiliki dua sumber mata air yang merupakan sumber mata air terdekat dari pemukiman warga desa Kotayasa.  Meskipun dinilai terdekat, namun warga harus berjalan beberapa met…

Menanti Matahari di Bukit Tranggulasih

Saya menikmati embusan angin yang mengenai kulit muka. Sejuk. Dingin. Dan agak lengket karena saya hanya mandi pada pagi hari. Sebelumnya, sesekali saya memejamkan mata dan mulut tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Jalan menuju Bukit Tranggulasih ini memang sebuah tantangan. Awalnya saya takut menaiki Truk besar terbuka yang biasanya digunakan untuk mengangkut hewan atau pasir dan hasil bumi lainnya. Meskipun sebetulnya bukan karena naik truknya, namun yang membuat khawatir adalah jalannya yang terlihat menanjak, tak terlalu lebar dan langit yang mulai menggelap.

Kekhawatiran mulai terobati saat saya berdiri dalam truk yang sedang berjalan itu dan mulai menikmati alam Banyumas. Tak lagi memejamkan mata, saya mulai membuka mata dan masih nampak asri-nya Banyumas meskipun langit menggelap, masih terlihat pohon-pohon dan rumah warga yang terlihat ramah lingkungan. Kalimat istighfar yang tadinya saya komat-kamitkan, berubah menjadi kalimat tasbih, saya bersyukur bisa menikmati pemandan…