“No matter where you are from, you dreams are valid” – Lupita Nyong’o

I really like the quote when I get the postcard. Benar, tak peduli darimana kita berasal, mimpi kita itu sah. Valid. Kutipan tersebut saya dapatkan dari Sutisna, seorang sahabat yang berhasil meraih mimpinya satu persatu. Ia mengirimkan beberapa postcard dari East coast of US, negara yang berhasil ia jajaki.

Bermimpi, adalah salah satu hal yang dulu saya takutkan. Takut jika kebanyakan mimpi dan tak bisa mencapainya, saya akan menjadi gila. Apalah arti bermimpi jika tidak dibarengi dengan aksi. Namun hal itu lambat laun berubah. Entah kapan saya mulai berani bermimpi dan beraksi tentunya. Mungkin saat Pak Hilal, guru agama di SMA,  saat itu beliau merangkap sebagai guru BK dan meminta kami untuk menuliskan rancangan masa depan dan memberikan kami space waktu ditengah balajar kami untuk bermimpi. Mimpi saya saat itu adalah lanjut kuliah dan menikah di usia muda, 21 thn (ini udah lewat siiihhh, semoga Allah segera menyegerakan..aamiin)

Menjadi manusia yang sok Mandiri

*foto ilustrasi kemandirian diperankan oleh saya sendiri :D

Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih lanjut mungkin hanyalah sebuah angan yang tak kunjung berani saya ukir dalam mimpi. Bisa sekolah sampai SMA adalah hal yang sudah sangat saya syukuri. Bapak meninggal dunia saat saya baru menginjak kelas 1 SD. Kehidupan tentu tetap harus berlanjut, ibuk yang sudah biasa bekerja sedari kecil, berusaha mengatur proses keluar masuk uang dengan hati-hati. Cita-cita beliau sangat sederhana, anak-anaknya bisa lulus SMA. Tidak seperti beliau yang SD saja tidak tamat karena himpitan ekonomi sehingga nenek tidak bisa menyekolahkan beliau.

Sebagai anak ke sepuluh dari sebelas bersaudara, dengan karakter masing-masing saudara yang berbeda, dan juga keadaan ekonomi keluarga yang serba dicukup-cukupkan membuat saya juga belajar menjadi manusia yang sok mandiri. Saat itu, kami bertujuh masih duduk di bangku sekolah (dua kakak saya telah meninggal dunia, jadi kami tinggal 9 bersaudara, dan dua kaka kami yang lain sudah menikah). Saya belajar berjualan mainan untuk menambah uang saku saat saya duduk di kelas 2 SD. Uang saku saya saat itu cukup untuk membeli jajanan saat jam istirahat. Namun, saya tetap harus bisa mendapatkan uang tambahan untuk ditabung, kelak harus membeli pensil atau penghapus kalau sudah habis.

Berlanjut di Madrasah Tsanawiyah. Uang sekolah mulai terasa sangat mahal. Saya sadar bahwa ibuk akan kesulitan membagi-bagi uang yang beliau miliki. Potong uang saku sudah menjadi hal biasa setiap semesternya. Untuk menyiasati hal tersebut, saya jualan jajan di sekolah. Awalnya takut di tegor guru. Tapi tetap saja saya lakoni. Hampir setiap hari saya membawa dua keresek besar jajanan (dengan sepeda jengki usang peninggalan bapak atau sepeda mini milik kakak jika beliau masuk sekolah di siang hari). Jajan tersebut saya jual saat jam istirahat. Sore harinya, saya membantu kakak untuk berjualan baju di Pasar Sore Pujasera Pare. Itu rutinitas saya untuk menambah pundi-pundi tabungan. Entah untuk keperluan apapun kelak, yang penting saya kudu nabung! Itu pikir saya.

Perjuangan terus berlanjut sampai SMA. Biaya SPP sudah mendapatkan keringanan dari sekolah,  paling tidak ibuk sudah mendapatkan keringanan dalam membayar SPP barang 50%. Prestasi saya kudu tetap terjaga, karena uang saku sudah diberhentikan semenjak saya Mts, maka saya memilih berjualan pulsa agar saya tetap bisa jajan dan memiliki tabungan.

Mimpi untuk melanjutkan kuliah belum hadir dalam benak.  Saat teman-teman saya sudah memiliki target kampus mana yang dituju. Saat itu, dalam benak saya, boro-boro mau kuliah, bisa sampai SMA aja saya sangat bersyukur.

Mulai bermimpi dan melanjutkannya dengan aksi

                                      *foto ilustrasi memulai aksi, menginspirasi negeri diperankan oleh saya sendiri :D

Suatu ketika saya berani bermimpi dan merangkai masa depan. Ada kabar sangat menyenangkan dari pemerintah tentang program beasiswa Bidikmisi. Mendengarkan kabar tentang beasiswa tersebut saja sudah membuat saya bahagia. Saya mulai berani bermimpi dan merancang masa depan saya saat pelajaran Pak Hilal.

Mimpi untuk kuliah bukan semata-mata mudah bagi saya. Apalagi, bisa dibilang saya anak pertama yang berani meminta ijin untuk kuliah setelah lulus SMA. Dari sebelas bersaudara, kakak laki-laki saya satu-satunya yang kuliah, itupun beliau bekerja dulu selama 2-3 tahun, baru lanjut kuliah.

Ditambah lagi, keyakinan keluarga di rumah, terutama ibuk, mulai menurun saat ada seorang yang cukup dihormati di kampung saya, beliau adalah seorang guru, beliau menyatakan bahwa "tidak ada kuliah yang gratis saat ini. Semua bayar mbak". Wow, itu kalimat berhasil membuat keyakinan ibuk saya menurun sesaat. Untuk kali pertama ibuk mengajak saya berbicara serius, hanya berdua di kamar. Bertanya kepada saya, apakah saya yakin bisa kuliah. Dengan penuh keyakinan saya meyakinkan beliau bahwa saya bisa kuliah.

Mendaftar bidikmisi pun tidak semudah apa yang dibayangkan. Ini suatu pelajaran bagi saya. Dan ya, ini benar-benar pelajaran bagi saya. Aksi sangat diperlukan jika ingin mimpi itu menjadi nyata. Menyiapkan semuanya dengan baik dan memiliki tabungan yang siap dicairkan untuk keperluan print dan transportasi juga sangat butuh diperhitungkan. Perhitungan saya sesaat meleset saat saya tidak lolos SNMPTN Undangan dan harus mengikuti SNMPTN Tulis yang berarti saya harus ikut tes di Surabaya. Ini berarti tabungan saya tentu akan terpakai dan honest, saat itu snmptn tulis dengan bidikmisi satu-satunya jalan saya bisa Kuliah. Jadi, saya harus bisa ikut ujian tersebut.

Beruntung ada seorang kawan yang membantu saya. Ia sempat menangis karena takut saya tidak lanjut kuliah. Ketakutannya ia haturkan kepada ibunya. Dan melalui ibunya, saya bisa mendapatkan uang saku untuk perjalanan ke Surabaya. InsyaAllah Fidya, ia menjadi dokter yang baik kelak :)

Melanjutkan Mimpi Menorehkan Prestasi dan Karya untuk negeri

Siapapun kamu, darimanapun kamu, mimpi kamu itu SAH! Tentu lagi-lagi diberangi aksi untuk mewujudkannya. Menjadi lulusan terbaik Fakultas Teknik dengan waktu tempuh belajar 7 semester adalah hal yang sama sekali tak pernah saya kira bisa saya wujudkan. Mimpi itu saya tulis saat saya di tahun kedua kuliah. Well, itu masa lalu. Mimpi saya terus berlanjut dan harus berjuang untuk meraihnya.



Alhamdulillah, sekarang saya dibawa ke lingkungan orang-orang terbaik di negeri ini. Mereka yang menorehkan prestasi dan karyanya untuk negeri. Setelah melewati berbagai macam proses seleksi dan tentu saja perjuangan yang tiada henti untuk mendapatkan beasiswa pendidikan Indonesia dari LPDP. Akhirnya saya bertemu dengan para Laksamana Metamorfosa yang terkumpul dalam Persiapan Keberangkatan Angkatan 88 (PK-88) yang cinta pada negerinya, yang berbuat sebelum diminta, yang beraksi penuh dengan semangat, yang berjuang saling merapat, yang mengabdi dengan ikhlas dan yang berjuang dengan totalitas tanpa batas. Tentu kami bermimpi dan terus beraksi demi Indonesia Jaya.

Menjadi manusia yang bermanfaat memang tentu tidak harus menunggu untuk sampai ke jenjang pascasarjana. Namun jika kita memiliki sesuatu yang lebih banyak, tentunya kita bisa memberikan lebih banyak lagi. Saat ini saya ingin menginvestasikan waktu saya untuk kulakan ilmu sembari membagi apa yang saya miliki melalui beberapa komunitas yang saya ikuti.
Ingat pesan Rasulullah SAW, “Bekerjalah seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati besok”

Bermimpi dan tetap melakukan aksi tentu masih terus harus dilakukan. Alhamdulillah beasiswa untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana yang dulu saya impikan sudah didapatkan, sekarang saya harus segera mendapatkan kepercayaan kampus tujuan saya agar saya segera bisa belajar disana. Lalu tentu saja melanjutkan aksi  berkarya untuk Indonesia. Aamiin

Baca juga : Lolos Seleksi Administrasi dan Substansi Beasiswa LPDP

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan mereka sendiri.” – Q.S Ar Ra’d : 11

Alhamdulillah, Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Ayat yang selalu saya andalkan dalam setiap helaan perjuangan untuk menggapai apa yang saya impikan.

Setelah Beasiswa bidikmisi yang menjadi tempat bagi saya berpijak untuk melanjutkan pendidikan sarjana, kini beasiswa LPDP menjadi jembatan bagi saya dalam meraih mimpi saya selanjutnya. Dan tentunya impian seluruh anak Indonesia.

Beasiswa yang memiliki ribuan peminat ini memang digandrungi anak muda Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Saya-pun tentu mengambil kesempatan ini. Rencana singkat saya setelah lulus sarjana saat itu (Januari 2015) adalah mengabdi dalam bentuk apapun (Baik bekerja atau melakukan hal apapun yang bermanfaat) selama satu semester, 6 bulan. Itu masa saya mencicil apa yang saya dapat dari kampus dengan uang rakyat. Paling tidak di bulan September 2015, saya sudah memiliki persiapan untuk lanjut sekolah.

Yap namun rencana Allah tentu jauh-jauh lebih baik. Saya masih terus berkonstribusi di sebuah inkubasi startup yang mencetak para entrepreneur muda yang peduli pada Indonesia, di bidang teknologi sampai awal bulan Desember tahun lalu. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu dari Koh Yansen, Bu Risma dan teman-teman Start Surabaya.

Singkat cerita, saya menyiapkan untuk mendaftar beasiswa BPI LPDP ini kurang lebih selama 2 bulan, setelah resign dari perusahaan kontraktor migas. Karena saya mengejar lolos di Batch 3 tahun 2016 ini. Cukup singkat menurut beberapa teman, so that’s why I write this story. However, dengan segala kekurangan ria, kalo ria bisa dalam waktu dua bulan mempersiapkan ini, kamu pastinya jauh-jauh lebih bisa.

So, apa aja sih yang musti disiapkan agar Lolos beasiswa LPDP?

Meluruskan NIAT dan Mempunyai VISI



Sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, perlunya kita benar-benar bertanya pada diri sendiri. Tujuan untuk melanjutkan study itu apa dan mengapa. Meluruskan niat untuk belajar dan menjadi manfaat untuk Indonesia tentu menjadi prioritas. Yang namanya prestasi jaman kuliah sarjana dulu, segala egoisme, bangga karena mengerjakan skripsi dalam waktusingkat yang hanya semu itu, pengalaman dan kedudukan serta mental blok lainnya harus benar-benar dihilangkan. Dan semuanya menjadi 100% Komitmen. Ini saya pelajari dari Pak Mahdum, Direktur Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana, LPDP.

Persyaratan Administrasi yang kudu dipenuhi


*Potongan screenshot email Pengumuman Lulus Seleksi Administrasi - 27 Juli 2016

Persyaratan administrasi terkadang “digampangkan” begitu saja. Atau bahkan justru “Malas Mengurus” karena mengurus berkas-berkas itu ribet. Walhasil molor-lah planning untuk daftar beasiswa., atau malah gak jadi daftar. Mental ini kudu segera dimusnahkan dalam hidup ini. Hehe

Karena memang persyaratan berkas-berkas ini kudu benar-benar disiapkan. Kesempatan untuk mendaftar beasiswa LPDP hanya 2 kali dalam seumur hidup. Saya baru mempersiapkan berkas-berkas setelah memutuskan mengundurkan diri dari kontraktor migas. Karena ternyata mempersiapkannya sembari kerja juga sangat sulit.

Saya cetak booklet panduan pendaftaran beasiswa pendidikan Indonesia LPDP. Kamu bisa mendownloadnya di website LPDP disini. Saya pelajari apa-apa yang musti saya siapkan, jadi setelah saya mengajukan resign, saya sudah tahu harus melakukan apa saja. Buku Panduan ini sangat penting, jadi sebelum bertanya kepada para awardee (sebutan bagi penerima beasiswa dari LPDP) yang kita kenal, akan lebih baik kita membaca dengan tuntas buku panduan ini.

Saya alumni beasiswa bidikmisi, maka saya masuk kualifikasi Beasiswa Afirmasi Bidikmisi. Berkas-berkas yang harus dipenuhi lebih banyak ketimbang Beasiswa Pendidikan Indonesia yang regular.
Berkas-berkas berikut ini yang harus disiapkan, lengkapnya baca di Panduan yaa:

1. Ijazah dan transkrip terakhir
2. Sertifikat bahasa (bisa pakai IELTS, TOEFL, TOAFL, DELF, etc, Nah, saya menggunakan sertifikat Toefl ITP) atau LoA Unconditional dari kampus tujuan yang ada di list LPDP.
3. SKCK
4. Surat rekomendasi sesuai format LPDP
5. KTP
6. Surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan TBC kalau daftar ke luar negeri
7. Essay kontribusiku bagi Indonesia
8. Essay sukses terbesar dalam hidupku
9. Study plan (untuk S2)
10. Surat pernyataan tidak menerima beasiswa lain, berkelakuan baik, dan siap mengabdi untuk Indonesia sesuai dengan format buku panduan.


Jika kamu memiliki kriteria yang sama dengan saya, maka kamu bisa siapkan berkas-berkas berikut ini:

• Kartu Keluarga yang terbaru
• Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan
• Slip gaji atau surat keterangan penghasilan orang tua dan suami/istri bagi yang sudah menikah
• Rekening listrik 3 (tiga) bulan terakhir, bagi yang menggunakan listrik pra bayar dibuktikan dengan membuat surat pernyataan terkait besaran biaya rata – rata penggunaan listrik 3 (tiga) bulan terakhir yang ditandatangani di atas materai 6000
• Surat Keterangan Penerima Beasiswa Bidikmisi


Jarak antara Pare (tempat tinggal saya) dan Bangkalan, lokasi kampus saya, bisa dibilang cukup jauh. Bisa menembuh 6-7 jam perjalanan. Teman dan Kenalan menjadi tangan-tangan yang membantu saya selama proses administrasi ini. Numpang menginap di teman agar pagi hari sudah bisa menunggu Pak Arif dan Bu Indah, dosen pembimbing saya, untuk meminta surat rekomendasi misalnya. Meminta Anang dan Iwan, dua kawan saya yang kini bekerja di kampus, untuk memintakan surat keterangan penerima bidikmisi, karena saya kelewatan lupa saat ke Bangkalan tidak meminta surat ini. Tangan-tangan mereka inilah yang membantu saya dalam proses kelengkapan dokumen jika memang harus diurus di kampus.

Essay!



Perkara essay juga terkadang membuat teman-teman merasa frustasi. Tenang, hal itu juga terjadi pada saya. Saya sempat frustasi karena tidak ada ide untuk menulis apa yang harus saya tulis. Tapi, dunia ini tidak pernah kekurangan orang-orang baik. Tentu saja.

Saya mulai browsing contoh-contoh essay, termasuk contoh study plan. Tulisan-tulisan para awardee yang sharing di blg masing-masing memang sangat membantu. That’s why saya juga mau sharing disini.

1. Essay kontribusiku bagi Indonesia

Dalam kurun waktu 1 bulan sebelum pendaftaran, saya mulai menulis 3 essay ini. Segala referensi, meminta essay kenalan yang sudah menjadi awardee, membacanya lagi dan lagi. Barulah saya mantap untuk menulis.

Karena terbiasa menulis “curhatan” di Blog. Maka gaya penulisan saya-pun tidak terlalu formal. Saya bercerita apa adanya, dengan gaya saya dalam essay ini. Seperti halnya curhatan singkat. Dalam essay ini saya bercerita tentang apa saja yang sudah saya lakukan minimal untuk orang-orang di sekitar saya, konstribusi apa yang sedang saya lakoni saat ini dan konstribusi apa kedepannya yang ingin saya jalankan. Konstribusi yang kita ceritakan tak melulu harus konstribusi yang besar namun kongkritnya belum kita jalankan, kontribusi sederhana namun sudah kita lakukan akan lebih baik dituangkan dalam essay ini.

Format yang saya gunakan dalam essay ini mirip dengan essay yang dicontohkan oleh Kak Budi di website Sekolah Toefl.

2. Essay sukses terbesar dalam hidupku

Nah, untuk essay sukses terbesar ini mirip juga dengan konstribusi. Ukuran sukses setiap orang berbeda-beda, sukses terbesar dalam hidup saya adalah seberapa banyak pencapaian dan prestasi yang sudah saya raih, serta seberapa banyak saya dapat bermanfaat bagi orang lain. Jadi, saya terkadang bingung membedakannya. Hampir mirip dengan essay konstribusiku bagi Indonesia

3. Study plan

Rencana selama proses pembelajaran di pascasarjana ini juga berhasil mmebuat saya berfikir keras. Jujur saja, saya belum ada topik thesis saat penulisan study plan ini. Saya mempelajari seluk beluk Magister Teknologi Informasi, program studi yang saya ambil. Saya membagi menjadi 4 bagian dalam rencana studi ini, pertama adalah latar belakang kenapa saya mengambil program ini. Kedua adalah rencana perkuliahan saya, apa saja mata kuliah yang saya ambil dan bidang minat apa yang ingin saya dalami. Ketiga adalah aktivitas saya diluar kampus, saya ceritakan apa yang ingin saya lakukan disamping kuliah. Dan terakhir adalah harapan saya setelah kuliah.

Essay saya ini tidak langsung saya upload disini, namun teman-teman bisa meminta essay saya melalui chat di akun sosial media saya atau melalui email. :)

Saran saya, lakukan juga proof reading dari para senior atau awardee yang kamu kenal. Nah, kalau saya, sudah ada mentor keren dalam tulis menulis, Mas Wahyu, salah satu founder Komunitas Blogger Madura, yang saat itu sedang berada di Taiwan untuk menyelesaikan pasca sarjananya. Mator Sakalangkong kak!

 

Setelah Lulus Administrasi, kamu akan diundang untuk mengikuti Seleksi Substasi!


*Lokasi Seleksi Substansi di Surabaya

Nah, setelah semua berkas sudah diupload dengan benar. Saatnya menanti email bahwa kita LULUS seleksi administrasi. Ini biasanya dapat kamu lihat di akun LPDP saat pendaftar online. Ada status pendaftaran kita yang akan selalu diupdate.

Seleksi substansi terdiri dari On the Spot Essay Writing (Menulis Esai di Tempat), Leaderless Group Discussion (LGD) dan Wawancara. Setelah mendapatkan undangan seleksi subtansi, kamu bisa mulai menyiapkan daftar pertanyaan yang mungkin akan keluar saat wawancara. Saya sendiri menyiapkannya berbekal dari pengalaman-pengalaman para awardee terdahulu. Tanya langsung kepada para awardee dan mencari contoh soal-soal yang keluar. Untuk hal ini, kamu bisa japri saya untuk mendapatkan file-file pertanyaan yang saya miliki.

Namun, tidak semua pertanyaan sama. Nah, kalau pengalaman saya saat wawancara pada Agustus lalu, saya lebih banyak diminta bercerita tentang kegiatan saya, pengalaman baik menyedihkan atau menggembirakan. Sisi psikologis saya lebih banyak dites disini.

Untuk On the Spot Essay Writing ada satu topic yang ditentukan. Biasanya topik yang ditentukan ini tak jauh-jauh dari berita terkini atau permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia. Setelah diumumkan lulus administrasi, saya lebih sering membaca berita online atau Koran di perpustakan. Ini sangat membantu menambah wawasan kita terkait isu-isu yangsedang terjadi di negara kita.

Dan untuk Leaderless Group Discussion (LGD) , kita akan dibagi tim LGD yang informasinya ada di akun kita masing-masing. Jadi pastikan bahwa kita sudah tau kelompok berapa dan jadwal LGD jam berapa. Akan lebih baik jika datang lebih awal dan berkenalan dengan tim LGD kita. Dari situ kita bisa menentukan siapa yang akan menjadi moderator. Dan juga dari perkenalan ini, kita jadi tahu bidang masing-masing, jadi saat tema LGD dibagikan, kita sudah tahu siapa yang paling tepat untuk berbicara diawal.

Bagi yang mendaftar ke Luar Negeri, untuk Wawancara, Essay on the spot, dan LGD diharuskan menggunakan bahasa Inggris. Nah, untuk yang dalam negeri diperkenankan menggunakan bahasa Indonesia. Namun, akan lebih baik jika kita mempersiapkan bahasa Inggris juga dengan baik. Ini terjadi pada saya. Saat sesi wawancara, saya diminta menjelaskan tentang suatu hal dengan bahasa Inggris. Tentu dengan belepotan saya menjelaskannya dengan bahasa Inggris. Walhasil interviewer yang saat itu adalah Dosen dari UIN Syarif Hidayatullah dan dosen psikolog dari UI kurang paham dengan penjelasan saya. Yang paham hanya professor dari Unhas, itupun karena beliau satu bidang dengan saya. Hehe, jadi akan lebih baik siapkan juga bahasa inggris kalian untuk sesi wawancara meskipun kita mendaftar di Dalam Negeri. :)

Sesi wawancara ini yang menurut saya paling epic. Karena apa yang saya siapkan malah justru tidak ditanyakan. Sempat kezal dengan diri sendiri karena kurang lancar dalam bahasa inggris. Namun tetap bersyukur karena dalam sesi iu saya benar-benar all out menjadi diri sendiri, Nangis, Ketawa, sempat guyon karena dikira saya masih SMP (lhah ini seriusan guyonannya, bukan pujian, muka udah kek gini masih dikira anak SMP cobak . Ya saya ketawalah, bisa aja bapak ibu dosen ini bercanda.hehe). Saya-pun tetap jujur kalau belum memiliki rencana tesis, tapi saya jelaskan bahwa ada dosen yang saya tertarik untuk menjadi anak bimbing beliau. Ini poin yang perlu diingat juga, bisa jadi saya dinilai siap karena sudah tau beberapa nama dosen UI yang ingin saya jadikan dosen saya. Hehe

*Potongan screenshot email - Pengumuman Lulus Seleksi Substansi - 9 September 2016

Saya masih tidak menyangka bahwa saya sekarang menjadi awardee LPDP. Perjuangan saya masih harus dilanjutkan. Saya belum mendapatkan LoA dari kampus yang saya tuju. Apalagi memulai perkuliahan saya. Tentu saja belum, karena saya belum mendapatkan kampus. Mohon doanya ya teman-teman, semoga Allah kasih tempat belajar yang membawa ria dalam kebaikan..aamiin

Buat kamu yang tertarik untuk melanjutkan sekolah, sok atuh mulai disiapkan, kalau rejeki mah tidak kemana. InsyaAllah.

Semoga tulisan ini bermanfaat, jika masih ada yang mau didiskusikan, Feel free untuk hubungi saya di sosmed atau email ya! :D