Langsung ke konten utama

[Book Review] 30 Paspor di Kelas Sang Profesor

Buku adalah bagian dari keajaiban bagi saya. Karena dengan membaca buku, saya bisa melihat tempat-tempat yang dikisahkan dari berbagai belahan dunia. Dengan membaca buku, saya bisa merasakan alur perjalanan dari sebuah kisah, bahkan merasakan fluktuasi derap-derap jantung sang empunya cerita. Dengan membaca buku  wawasan-pun bertambah dan mindset juga semakin terbuka. Kali ini, saya membaca sebuah buku yang mampu mengantarkan saya ke empat Benua. Ya, buku ini adalah buku tentang kisah anak-­anak Muda yang kesasar di Empat Benua.

Bagaimana pendapatmu JIKA professor/dosen kamu memberikan tugas kuliah berupa BEPERGIAN KE LUAR NEGERI. ? TUGAS WAJIB dan PERGI ke luar negeri SENDIRI.  Hmm, nampaknya jika saya sebagai mahasiswi yang mendapatkan kelas professor ini, saya kudu benar-benar menyiapkan mental. Bagaimana tidak harus siap mental, tugas ini bukan hanya bepergian ke luar negeri sendirian! Namun negara yang dituju-pun TIDAK boleh NEGARA SERUMPUN.

Awalnya saya geleng-geleng. Namun setelah membaca pengantar yang dituliskan oleh Prof. Rhenald Kasali Phd, selaku professor yang memberikan tugas nyentrik ke mahasiswanya ini, sampai habis, saya benar-benar melek. Beliau memberikan alasan tujuan yang benar-benar gamblang dan sangat cerdas akan tugas tersebut. Rangkaian kalimat beliau sangat menggugah semangat. Ah, Beruntung sekali para mahasiswa yang mendapatkan kelas beliau.

Tujuan dari penugasan ini adalah untuk memicu sekaligus mengaktifkan Self Driving atau kemampuan men-drive diri untuk menemukan pintu keluar jika terjadi kesulitan. Tidak selalu “manut” dengan keadaan, jika jalan buntu dan mentok terus berhenti? Tentu tidak! Jika seseorang memiliki kemampuan self driving yang bagus, kalau mentok ya belok. Kalau nyasar? Ya berarti kita telah menemukan jalan baru (yang belum pernah kita temui) toh!?  Dalam hal ini, Prof Rhenald mengutip tentang filsafat Colombus.

KESASAR di Negeri Orang? Nampaknya SERU!

IMG_20151023_092015

Kompilasi berbagai macam permasalahan kesasar dari buku ini tentu sangat menarik. Bukan hanya permasalahan saat kesasar, bahkan sebagian kisah dalam buku ini menceritakan pula permasalahan saat mendapatkan tugas ke luar negeri. Tentu saja permasalahannya beragam, ada yang harus meyakinkan orang tuanya, perpanjangan paspor yang sempat terlupakan, pemilihan negara tujuan dan tentu saja saat sudah di luar negeri permasalahan tak tahu arah, bahasa dan tentu saja kesasar. Bagi mahasiswa yang mendapatkan negara dengan masyarakat mayoritas mengerti bahasa Inggris tentu akan lebih mudah. Namun nyatanya sebagian mahasiswa ini mengalami kesulitan saat ternyata negara tujuan mereka masyarakatnya kurang mengerti bahasa Inggris.

Kendala bahasa misalnya yang dialami oleh Farah yang memilih Jerman untuk negara yang ia tuju. Disaat sesampai disana, ia bertanya kepada petugas untuk arah menuju hotelnya. Ia dibantu petugas tersebut dengan sebuah peta yang dicoret-coret oleh petugas untuk menunjukkan arah. Ia bersiap dan menuju tempat yang dimaksud oleh petugas. Farah sempat salah sangka dengan negara maju ini karena eskalator bandara tidak berfungsi. Ia memilih untuk menuruni tangga dengan membawa kopernya yang lumayan berat. Walhasil sesampai dibawah, ternyata ia berada dalam sisi yang salah. Terpaksa ia mengangkat kopernya kembali keatas melewati tangga untuk mencapai sisi yang lain dengan escalator yang tentunya berfungsi.hehe

Kisah-kisah yang lain juga memiliki pengalaman dan tetunya nilai masing-masing. Ada kisah pertemuan mahasiswi UI dengan TKW asal Indonesia yang memiliki mindset yang bagus, ada pula yang ke Birma dan sempat mengalami masalah saat transit di Singapura lalu sesampai di Birma ia bertemu dengan Zho, teman baru  yang ternyata sangat baik (Honestly, saya suka sekali dengan Zho dia baik pake banget :) ) dan kisah-kisah lainnya.

Berbagai kisah dan pengalaman unik disampaikan dalam buku ini, kamu tentu dapat membacanya sendiri. Meskipun sayangnya memang setiap cerita memiliki jumlah halaman yang berbeda. Ada yang menceritakan pengalamannya dengan sangat detail sehingga bisa sampai 25 halaman. Ada pula yang menyampaikan kisanya singkat, jadi membuat saya kadang merasa ada yang kurang.

Tapi tetep, saya sangat merekomendasikan buku ini. Apalagi untuk anak-anak muda di Indonesia. Dari buku ini saya jadi belajar tentang SELF DRIVING yang penting bagi seorang manusia. Dan lagi, bukankah Allah juga menganjurkan kita untuk bertebaran di muka bumi ini dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 yang artinya :
Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah”. [Al Jumu’ah : 10]

Rejeki dan karunia Allah itu bermacam-macam bentuknya. Pengalaman ke luar negeri tentu akan mendatangkan rejeki dan karunia masing-masing. Bisa jadi rejeki dan karunia tersebut berupa ilmu, pengalaman, value, bisa jadi juga berupa uang, atau banyak hal lainnya yang insyaAllah bermanfaat jika kita mengambil segi yang positif. Jika ada ara melintang atau permasalahan yang datang, kemampuan self driving inilah yang dibutuhkan. Mahasiswa-mahasiswa yang sharing kisahnya disini  menunjukkan kemampuan self drivingnya dalam mengalami suatu masalah. Seperti yang dituturkan oleh Prof Rhelnald, “Ketika kalian bepergian sendiri, kalian akan dibawa pada berbagai situasi sulit yang menuntut kalian berpikir cepat. Seperti itulah dunia sekarang, terlambat sedikit, kalian tertinggal. Kalian tak selamat.”

Jadi, mau ketinggalan atau berfikir cepat dalam mengambil keputusan? Be driver ya ! :)

IMG_20151022_154011_HDR

* Saya membuat passport pada tahun 2014, tanpa ada rencana ke luar negeri sebelumnya. Hanya mempersiapkan diri dan berdoa barangkali dapat rejeki ke luar negeri. Persiapan saat bertemu dengan peluang maka akan terjadilah keberuntungan. Alhamdulillah tahun 2015 dapat ke luar negeri, insyaAllah tahun ini akan berangkat lagi. Bismillah..

**  Saat kuliah Metode Penelitian, kami diwajibkan mengikuti Seminar Nasional (sebagai pemakalah) dan dibebaskan mengikuti dimana saja dan sangat dianjurkan untuk tidak mengikuti Seminar Nasional di Kampus. Saat itu tim saya memilih mempublikasikan hasil penelitian di IPB. Dan wow! Ini pengalaman yang masyaAllah, Kami sempat tidur di stasiun dan di IPB bertemu para keynote speakers yang mengesankan. Mungkin Bu Andharini, dosen kami, juga menginginkan mahasiswanya memiliki Jiwa Self Driving. Terima kasih Bu Andharini :)

***Terima kasih untuk Mas Wahyu yang telah mengirimkan buku ini. Very inspiring!

Komentar

  1. susilo cahyo purnomo26 Agustus 2016 17.58

    pada waktu perkuliahan metode penelitian juga di bebaskan untuk ikut seminar nasional, kamu pilih ikut seminar nasional di daerah mana mbak?

    BalasHapus
  2. wacana menarikkk..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Mengikuti Seleksi Ujian Masuk UI S2 - SIMAK UI

"Gak kerasa ya kita udah mau UTS nih!" ucap seorang kawan setelah kelas usai. Bagi saya yang baru sudah 3 bulan hidup di ibu kota, Jakarta dan menempuh perkuliahan di program studi Magister Teknologi Informasi, cukup terasa.  Ya, memang benar terasa begitu cepat, tiba-tiba saja sudah UTS saja. Namun bukan itu point yang saya highlight.  Namun prosesnya..

Kuliah magister / pascasarjana / master degree / S2 memang mungkin bagi sebagian orang terasa mudah. Bagi saya, bisa lanjut kuliah ini saja sudah pernuh perjuangan, kuliahnya tentu juga dengan berjuang, tidak semua materi perkuliahan sudah saya dapatkan di jenjang sarjana. Banyak hal baru yang mesti saya pelajari. Peran teman, sahabat dan semua koneksi diperlukan. Tentu saja doa ibuk dan dukungan kakak adek di rumah sangat-sangat berpengaruh. Semoga Allah senantiasa memudahkan ya. ^^

Back to master degree process..

Saat saya memutuskan untuk lanjut kuliah, saya mulai memikirkan universitas mana yang saya tuju. Tentu dengan rese…

Program Top Contributor atau Kontributor Utama Forum Google Penelusuran Indonesia

Banyak yang mengira bahwa saya kerja di Google. Baik mengkira-kiranya saja tanpa bertanya dan cerita ke orang lain dan ada pula yang langsung bertanya (ah lebih tepatnya langsung ngasih statement) ke saya secara langsung.

“Ria, km masak gak bisa nraktir kita, kan km kerja di Google!”

Pernyataan ini agak parah sih. Kalau misal ditraktir es teh di warung masing mending ya, ini es teh atau segelas kopi di coffee shop ala-ala yang saya masuk aja gak berani.hehe. Namun, kenyataannya adalah saya tidak belum kerja di Google. *Susah atuh mau masuk perusahaan multinasional yang super cool inih!

Biar semua gak pada penasaran, kok bisa sih saya “dekat” sama Google? Ikutan berbagai acaranya, kenal dengan para Googler , bahkan dapat invitation ke Kantor Google, saya bakalan cerita :D

Kembali

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kembali memiliki 3 makna yang semuanya merupakan kata kerja. (1) Balik ke tempat atau keadaan semula, (2) lagi, dan (3) sekali lagi, berulang lagi.

Saya kembali. Yes I am here guys! Setelah sekian lama selalu menutupi rasa malas dengan berbagai alasan untuk tidak kembali menulis disini.
Barangkali ini hal yang klise. But honestly, sulit sekali memulai menulis kembali. Padahal, banyak sekali rasa yang ingin saya ungkap, cerita yang ingin saya tuangkan, kisah yang ingin saya tuliskan, makna dalam hidup yang ingin saya ukir disini sebagai tempat muhasabah diri. Dan barangkali bisa setidaknya sebagai bahan bacaan diwaktu senggang, atau pembelajaran, atau bahkan bisa menginspirasi kamu yang berada di depan monitor atau layar handphone saat ini.
It almost 1,5 years, i am inactive to post in instagram (sometimes I post instagram story, yaa, for keep my moment) dan ternyata hal tersebut memberikan efek gelembung ke sekitarnya. Saya jadi jarang sekali menulis te…