Aku terdiam dalam dekapan malam
Suara detik jam dinding begitu kentara
Bahkan nyamuk yang hilir mudik terdengar begitu mengusik
Aku sejenak mengingat lekat-lekat
Mengapa aku memikirkan dia yang mungkin tak memikirkanku?

Padahal ada seseorang yang dalam setiap sepertiga malam terakhirnya bersujud mendoakanku
Padahal ada seseorang yang dalam setiap detik yang dilaluinya mengkhawatirkanku
Padahal ada seseorang yang dalam setiap hela nafasnya, berdzikir kepada Sang Pencipta demi keselamatanku
Padahal ada seseorang yang dalam setiap langkah kakinya mengharapkan kebahagianku

Aku disini?
Malah asyik dalam khayalan romansa yang masih dalam area abu-abu
uncertainty!

dan 22 tahun lalu lah, beliau, seseorang yang dalam setiap diamnya adalah doa
dalam setiap kesabarannya dan rasa syukurnya, Allah telah menitipkanku dalam rahimnya..
Ibuk..

ibuk

kknSebuah pengabdian. Beban Moral. Liburan. Sejarah. Persaudaraan. Bermanfaat. Atau mungkin hanya karena sebuah nilai dari mata kuliah wajib?


Pertanyaan itu menghantui saya setiap ada senior saya yang berangkat KKN. Saya penasaran dengan hasil dari KKN. Kuliah Kerja Nyata. Hidup satu bulan dengan orang-orang yang baru. Ah, sepertinya tak sulit bagi saya. Karena saya tipikal orang yang mudah beradaptasi. Tapi, sebenarnya hasil dari KKN itu apa? Pernyataan-pernyataan seperti susah air, hidup gersang, jauh dari keramaian/kota, bakalan capek dan sibuk, tidak ada internet, jarang buka laptop, hemat listrik atau bahkan tidak ada listrik, dan berbagai pernyataan menakutkan itu hanya terlintas sejenak.


Apakah nanti KKn saya akan menjadi sebuah pengabdian, atau hanya pelampiasan beban moral, hanya sekedar liburan ke sebuah desa, akan menjadi torehan sejarah bagi saya dan desa tersebut, akan terciptanya tali persaudaraan baru, bermanfaat bagi masyarakat desa, atau mungkin hanya untk mendapatkan sebuah nilai dari mata kuliah wajib ini? Pertanyaan inilah yang semakin membuat penasaran saya, bagaimana KKN saya kelak. Ya, kini saya telah merasakannya.