SiNetRon IndOnEsiA!? oh NO!?

By Ria Lyzara - Maret 01, 2009

Pada masa sekarang ini, banyak bermunculan sinetron - sinetron di tv. Hampir sebagian waktu anak remaja dihabiskan untuk menonton sinetron.Tidak hanya remaja,namun banyak juga anak-anak usia dini yang nonton sinetron. Maka dari itu banyak remaja zaman sekarang yang mengikuti gaya hidup anak remaja yang ada di sinetron. Contohnya: Cara berpakaian anak remaja disinetron yang memakai baju atau rok yang tidak sepantasnya dipakai anak sekolah. Karena banyak anak remaja yang menonton sinetron seperti itu jadi banyak yang terpengaruh cara gaya anak remaja yang ada di sinetron.

Banyak dampak yang timbul dari menonton sinetron.Di lihatdari segi negatifnya, antara lain:

-Banyak anak remaja yang menjadi malas belajar, karena waktu mereka dihabiskan untuk menonton televisi. Oleh sebab itu, sebaiknya para remaja tidak terlalu menonton sinetron - sinetron yang berdampak buruk untuk kelangsungan hidup mereka.

-Secara umum sinetron hanya menjual fisik tanpa kualitas peran. Padahal insan seni adalah orang-orang yang menghargai karya seni dan mengemas karya tersebut menjadi sebuah tampilan yang menarik. Tetapi pada kenyataannya seni peran di dalam sinetron lebih mengedepankan tampilan fisik pemeran bukan pada kemampuan seni peran aktor dan artis. Sehingga kualitas sinetron menjadi tidak diperhatikan dan semata hanya mengejar keuntungan semata. Banyak artis baru yang bermunculan tanpa memiliki kualitas dan hanya bermodal tampang saja.

- Tidak membawa budaya lokal bangsa atau pun budaya timur yang santun dan memiliki etika dalam berbusana sehingga terkikisnya dengan gaya busana barat yang terbuka.

Lantas nilai apa yang diperoleh oleh ibu rumah tangga yang menyaksikan tayangan sinetron glamour dan gemerlap penuh kemewahan sedangkan kondisi ekonomi mereka berbeda jauh dari tayangan tersebut. Alhasil muncul sikap kontraproduktif dari pemirsa bahkan justru mendorong budaya konsumerisme. Berbeda implikasinya dengan apa yang akan diperoleh oleh remaja ABG. Kehidupan sebagian sinetron yang menampilkan kehidupan yang seperti di atas membawa remaja ke dalam kehidupan fantasi yang luar biasa, kehidupan dianggap mudah dan sederhana. Seseorang memerankan tokoh eksekutif muda yang mapan dengan kekayaan melimpah serta jabatan tinggi? Nilai apa yang bisa diambil dari peran tersebut? Siapa yang dapat mencapai jabatan direktur dalam usia muda dan memiliki harta sedemikian banyak selain bukan warisan? Kalaupun ada kasus yang memang terjadi apakah cukup mewakili kehidupan rakyat Indonesia. Remaja kita diajarkan bermimpi tanpa dorongan untuk bekerja keras.

Sorotan selanjutnya adalah konflik yang muncul bukanlah masalah kehidupan yang primer, malah mengajarkan memilih berkorban demi cinta yang semu seolah-olah hidup ini hanya untuk cinta tanpa perjuangan untuk hidup. Implikasi logis dari hal tersebut menimbulkan apakah kita belajar untuk menderita atau mencoba untuk menderita. Tetapi konflik yang muncul malah seputar interaksi sosial manusia yang itu-itu saja. Bukan ingin mengecilkan masalah konflik yang dimunculkan tetapi ada tanggung jawab yang lebih besar dari hal tersebut yaitu membentuk generasi pejuang dan penuh kerja keras. Bukankah nasib itu tidak akan berubah bila bukan kita yang mengubahnya.

Namun tak hanya dampak dari segi negatif yang ditimbulkan.Kita dapat melihat dari segi pendidikan. Sesungguhnya setiap cerita yang disajikan memiliki pesan moral (amanat) yang bagus, namun sayangnya hal itu tertutupi oleh cara penyajian yang terlalu kelewatan dan sangat jauh dari realita kehidupan masyarakat. Sehingga yang diambil oleh masyarakat setelah menonton sinetron adalah kebanyakan hal-hal negatif. Kita ambil contoh sinetron yang berlatar sekolah, lalu kita lihat bagaimana penampilan para siswa-siswi di sinetron itu. Subhanallah sangat tidak sopan sekali. Dan celakanya hal inilah yang dicontoh oleh para pelajar kita.

Sinetron sebenarnya memberikan warna terhadap dunia pertelevisian kita. Kita bisa melihat bintang-bintang muda yang penuh bakat beraksi mempertontonkan kelebihannya. Namun apakah kalian sadar maaf bahwa sinetron yang hadir di hadapan anda tak lain hanya sebuah cerita bodoh yang akan membodohkan kalian??!!<maaf>;-)

Lalu bila kita melihat dari segi seni peran itu sendiri, Lola Amaria, artis muda Indonesia, menyatakan bahwa sinetron saat ini hanya berupa pembodohan, pembodohan nasional itu bisa terlihat pada jalan cerita yang hanya menjual mimpi dan tema yang tak mau beranjak dari persoalan roman picisan (sumber di sini). Tema-tema picisan yang digarap dengan sistem manajemen ala warung ikut memicu dangkalnya seni peran dalam sinetron.
Begitu banyak judul sinetron yang tayang di tv, dan ternyata hampir seluruh sinetron itu adalah produk jiplakan. Dalam dunia seni kita mungkin mengenal pepatah mulailah berkarya dari meniru karya orang lain, tapi yang dimaksud di sini adalah kita boleh menjiplak namun tetap harus memiliki ciri khas yang positif yang kedepannya mampu membentuk karakter kita sebagai individu yang unik atau berbeda.

Bila kalian ingin tahu sinetron-sinetron Indonesia yang merupakan hasil jiplakan dari produk luar negeri coba klik di sini dan di sini. Lalu lihat betapa memalukannya bangsa Indonesia yang hanya bisa menjiplak dan menjiplak saja!! Apa salahnya membuat cerita baru atau minimal ambil dari cerita-cerita novel karya anak bangsa ini.

Kita Terlalu Bodoh Untuk Menilai dan Memilih

Bila kita perhatikan kembali, para konsumen sinetron-sinetron Indonesia adalah kebanyakan pelajar, ibu-rumah tangga, dan para pembantu yang pada dasarnya tingkat intelektualitasnya masih rendah. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para produser film untuk membuat film murah dengan kualitas rendah namun laku dijual. Kenapa?? Karena kita belum cukup pintar untuk menilai kualitas sebuah karya seni.

Bagi mereka yang terpelajar dan memiliki intelektualitas tinggi (kita masuk gak ya??) mungkin mereka akan memilih tontonan-tontonan yang lebih bermanfaat bagi diri mereka ketimbang menonton sinetron.

Sampai kapan fenomena ini bertahan? Sulit ditentukan. Selama jumlah penontonnya masih banyak, selama production house masih produktif memproduksi (baca: menjiplak), dan sampai kita masih belum tersadarkan diri, fenomena ini masih akan berlangsung lama.

=>Sinetron Indonesia selalu tampil dengan artis-artis cantik, cowok keren, latar belakang keluarga kaya-raya, dsb. Itu semua akan membawa kita ke dalam pemikiran hedonisme (pandangan yang menganggap kesenangan adalah tujuan utama hidup). Sebenarnya hal ini sudah menjadi perdebatan panjang sehingga pada tahun 2004 lalu pemerintah China mengumumkan bahwa serial sinetron dari Korea dan Taiwan dilarang tayang di negerinya. (Hebat!!!!!).
Mengapa kita tak dapat mencontoh China!?Seharusnya kita dapat mencontoh China demi kelangsungan bangsa ini.Bayangkan jika seluruh anak usia dini menonton Sinetron Indonesia,maka 10 tahun mendatang bagaiman anasib bangsa Indonesia!?

  • Share:

You Might Also Like

1 Comments